Video Of Day

Subscribe Youtube

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Friday, 27 April 2018

PENDASARAN TEOLOGI-KRISTOLOGIS ATAS PENGAKUAN YESUS KRISTUS PEAGABEGA


(Sebuah Usaha Berkristologi dalam Konteks Budaya Suku Migani)
Oleh
Kleopas Sondegau MIGANIJU
 (Mahasiswa Magister  Ilmu Teologi Pasca-Sarjana, Universitas Katolik Parahyangan Bandung).


Pada bagian ini penulis akan membahas dan mendalami kehadiran tokoh ideal Peagabega dalam suku bangsa Migani dari perspektif kristofani[i]. Walaupun kristofani berkaitan dengan penampakan-penampakan Yesus Kristus kepada para murid sesudah kebangkitan-Nya, namun penulis akan menggunakan makna kristofani tersebut dengan pendekatan Kristus iman untuk menunjukkan bagaimana Kristus yang bangkit itu hadir dan menampakan diri kepada orang Migani melalui kuasa Roh Kudus-Nya dalam diri tokoh Peagabega (bdk. Yoh 10:10). Dalam arti ini, Kristus yang bangkit tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu apalagi dengan ciri-ciri fisik tertentu. Ia juga tidak menyandang identitas manusiawi-Nya untuk memperlihatkan diri kepada setiap suku bangsa di bumi ini termasuk suku bangsa Migani.[ii] Oleh karena itu, Kristus yang bangkit kini hadir melalui kuasa Roh Kudus-Nya dalam diri tokoh-tokoh ideal yang ada seperti tokoh Peagabega dalam kultur orang Migani.[iii] Maka itu, penulis melihat dan memaknai kehadiran tokoh ideal Peagabega dalam suku bangsa Migani sebagai kehadiran Kristus sendiri dalam rupa manusia Migani.

Dalam kaitannya dengan penjelasan tersebut, maka nilai-nilai hidup positif yang ditunjukkan Peagabega semasa hidup dapat dimaknai sebagai kelanjutan dari karya keselamatan Kristus sendiri yang berlangsung melalui kuasa Roh Kudus-Nya dalam konteks suku Migani (bdk. Yoh 14:26; 15:26; 16:7).[iv] Dalam hal ini, Yesus Kristus hadir dan menyapa setiap suku bangsa dalam bentuk/wujud yang lain sesuai konteks setempat terutama sesudah Ia mengalami kebangkitan-Nya.[v] Kristus yang bangkit dengan mulia tersebut melalui kuasa Roh Kudus-Nya kini hadir dalam suku bangsa Migani melalui tokoh Peagabega.[vi] Maka itu, kita mengalami karya Roh Kudus dalam hidup kita yang konkret, dalam situasi dan kebudayaan kita yang konkret pula. Dengan demikian, setiap orang berusaha untuk mendalami arti dan makna Yesus Kristus dalam hidup dengan berpangkal pada pengalamannya sendiri. Pemahaman yang sesuai konteks kultur seperti ini amat penting karena bagaimanapun juga kita menangkap sesuatu, mengerti sesuatu sesuai dengan keadaan kita yang konkret.[vii]

Oleh karena itu, tokoh ideal Peagabega maupun tokoh Yesus Kristus, dalam arti tertentu dapat dimaknai sebagai satu oknum atau satu gambaran kehidupan dengan “dua nama”. Misalnya, Kristus yang satu dan sama itu bernama Peagabega berdasarkan perspektif suku bangsa Migani, atau dengan kata lain, orang Migani menyebut Kristus sebagai Peagabega; dan sebaliknya Peagabega adalah nama lain dari Kristus yang bangkit. Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa Yesus Kristus yang bangkit dengan mulia itu kini hadir dalam wujud manusia Peagabega dari suku bangsa Migani. Hal ini dilandasi oleh sebuah keyakinan iman bahwa Kristus setelah mengalami kebangkitan-Nya, Ia sudah tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Maka itu, kini Kristus hadir di segala tempat dan zaman melalui eksistensi diri-Nya yang ilahi dan mulia.[viii] Dalam hal ini, Kristus tidak lagi membutuhkan identitas manusiawi-Nya untuk menampakkan diri kepada segala suku bangsa di bumi ini termasuk suku bangsa Migani (ingat peristiwa penampakan Yesus Kristus kepada para murid ketika pintu rumah masih terkunci dalam Yoh 20:19, 26). Pola penampakan Kristus yang demikian ini terjadi juga dalam konteks kultur orang Migani melalui tokoh Peagabega sehingga kehadiran-Nya tentu mengatasi ruang dan waktu.

Bertolak dari pendasaran kristologis dengan pendekatan kristofani sebagaimana sejumlah penjelasan di atas, maka tokoh Yesus Kristus maupun Peagabega yang diyakini sebagai tokoh penyelamat, sesungguhnya adalah satu pribadi tetapi menyandang nama yang berbeda. Dalam arti ini, Kristus yang satu dan sama itu, sesudah mengalami kebangkitan-Nya, Ia hadir melalui kuasa Roh Kudus dalam wujud manusia Peagabega.[ix] Maka itu, keberadaan tokoh ideal Peagabega dapat dimaknai sebagai Kristus sendiri yang hadir dan menyapa orang Migani sesuai dengan konteks setempat; sebab berdasarkan refleksi iman orang Migani beragama Katolik, kedua tokoh ini adalah satu pribadi dengan “dua nama”. Bertolak dari refleksi iman seperti ini, maka konsekuensinya adalah umat setempat dapat menyebut: “Kristus sama dengan Peagabega, bukan lagi mirip seperti Peagabega”. Dengan adanya refleksi terhadap Yesus Kristus yang demikian tentu tidak bermaksud mereduksi ajaran resmi Gereja apalagi hendak mengabaikannya. Maka sambil berpegang teguh pada ajaran Gereja, ekspresi iman seperti itu dalam konteks inkulturasi memang dibutuhkan bahkan harus dilakukan demi alasan pastoral.[x] Dengan demikian, melalui upaya seperti itu diharapkan dapat mewartakan Kristus dan ajaran-Nya sesuai konteks masyarakat setempat sehingga pewartaannya sungguh-sungguh mengakar dalam kultur orang Migani.

Pendasaran kristologis yang dikaji berdasarkan sudut pandang kristofani sebagaimana telah diuraikan di atas bukan tanpa alasan. Oleh sebab itu, beberapa teks Kitab Suci PB berikut akan menjadi alasan pokok untuk membuktikan bahwa Yesus Kristus itu benar-benar hadir dan menyapa setiap suku bangsa di bumi ini termasuk suku bangsa Migani melalui tokoh-tokoh ideal yang ada seperti Peagabega. Dalam arti ini, Yesus Kristus tidak berhenti menjadi orang Yahudi tetapi melalui peristiwa inkarnasi Ia pun menjumpai setiap suku bangsa sesuai dengan konteks masyarakat setempat.[xi] Untuk itu, beberapa teks biblis berikut akan semakin memperjelas dan sekaligus memperkuat pendasaran kristologis atas pengakuan Yesus Kristus Peagabega.[xii]
Yoh 1:14  : Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Flp 2:6-7   : .......Yesus Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Kutipan teks PB di atas terlihat jelas bahwa teks tersebut membuka kemungkinan atau semacam memberi peluang bagi setiap suku bangsa termasuk suku bangsa Migani untuk mengungkapkan pandangannya sendiri tentang siapa itu Yesus Kristus dan bagaimana Ia bermakna bagi kehidupan masyarakat setempat. Dalam hal ini, misteri inkarnasi Kristus dilihat dan dimaknai sebagai suatu bentuk kontekstualisasi sehingga setiap suku bangsa dapat merefleksikan tokoh Yesus Kristus sesuai dengan pola kulturnya masing-masing. Melalui inkarnasi Kristus tersebut, Ia tentu tidak menolak kebudayaan Yahudi namun Yesus Kristus juga tidak berhenti menjadi orang Yahudi. Oleh sebab itu, peristiwa inkarnasi Kristus tidak hanya terbatas pada bangsa Yahudi saja melainkan berlaku juga untuk segala suku bangsa di bumi ini termasuk suku bangsa Migani.[xiii]

Berpijak pada pemahaman iman seperti itu, maka orang Migani pun semakin percaya bahwa Yesus Kristus itu hadir dalam kultur mereka. Ia yang menjelma menjadi manusia dan yang bangkit dari alam maut tersebut kini sudah tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu. Oleh karena itu, Kristus melalui kuasa Roh Kudus-Nya hadir dan memperlihatkan diri kepada suku bangsa Migani dalam rupa manusia Peagabega. Dalam hal ini, Kristus tidak bersembunyi atau menyembunyikan diri-Nya dari kehidupan masyarakat Migani. Ia juga tidak berada jauh di sana melainkan ada dan hidup bersama-sama dengan orang Migani dalam konteks masa kini (bdk. Yoh 10:10).[xiv] Cara pandang seperti ini akan terasa kurang logis bahkan hampir mustahil bila kita memaknainya dari perspektif Yesus historis (berasal dari Nazaret, orang Yahudi) namun penulis menyajikannya demikian berdasarkan perspektif Kristus iman (peristiwa inkarnasi Kristus dan karya-Nya sesudah bangkit melampaui batas ruang dan waktu).

Penjelasan tersebut hendak menegaskan bahwa misteri hidup Yesus Kristus itu tak pernah tuntas dibahas oleh siapa pun dan kapan pun.[xv] Dalam hal ini, misteri Kristus begitu dalam dan luas, sehingga tidak mungkin dirumuskan atau diungkapkan secara holistik dalam suatu rumusan tertentu. Kristus juga sebagai seorang pribadi tidak sepenuhnya dipahami dan dideskripsikan, apalagi dihayati dalam satu definisi.[xvi] Oleh karena itu, Yesus Kristus tidak pernah selesai dibahas dalam suatu aliran teologi tertentu atau pun dalam rumusan dogma-dogma kristiani; sebab iman akan Kristus tidak terikat pada kata atau rumus tertentu, melainkan menyangkut fakta dan pengalaman hidup manusia sepanjang zaman.[xvii] Hal ini hendak menunjukkan bahwa setiap generasi yang hidup pada zaman tertentu memiliki pandangannya sendiri tentang Yesus Kristus sesuai konteks setempat. Salah satu contohnya adalah Kristus yang satu dan sama itu dilihat dan dimaknai dari perspektif yang berbeda oleh generasi tertentu sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Suci PB.[xviii]

Dengan adanya realitas seperti itu, maka tidak salah dan bukan keliru bila setiap suku bangsa termasuk suku bangsa Migani sambil berpedoman pada ajaran resmi gereja, menampilkan paham Kristusnya sendiri berdasarkan latar belakang hidup, pola pikir dan konteks kebudayaan setempat. Tujuannya tidak lain adalah agar umat setempat semakin mengimani Yesus Kristus secara kontekstual. Di sinilah Kristus itu justru memiliki nilai dan makna yang universal bagi segala suku bangsa di bumi ini.[xix] Dengan menyadari bahwa Kristus itu universal, maka orang Migani melihat Dia dalam kebudayaannya sendiri melalui kehadiran tokoh ideal Peagabega.[xx] Dalam konteks ini, jika Kristus itu tidak universal maka tentu tidak mungkin ada upaya kontekstualisasi yang dilakukan seperti adanya kristologi Afrika, Korea, India, Amerika Latin, kristologi dari sudut pandang perempuan Asia, Black Theology, dan lain-lain.

Berkaitan dengan hal itu, bukan tidak mungkin lagi untuk memaknai Kristus secara demikian sebab umat kristiani secara jelas mengimani bahwa Putra Allah telah merendahkan diri dari tempat kediaman-Nya yang tinggi, diam di antara kita untuk menebus kita (lih. Yoh 1:14). Teks biblis ini secara jelas menunjukkan bahwa Yesus Kristus itu tidak berada jauh di sana melainkan Ia hadir dan menyapa setiap suku bangsa di bumi ini sesuai dengan konteks kultur setempat termasuk suku bangsa Migani melalui tokoh ideal Peagabega agar masyarakat setempat mengalami keselamatan hidup ideal. Dalam arti ini, Kristus dapat dijumpai melalui tokoh-tokoh ideal yang terdapat dalam setiap kebudayaan suku bangsa di dunia ini, terutama sejauh tokoh-tokoh tersebut menghadirkan keselamatan hidup ideal bagi masyarakat setempat.

Berdasarkan seluruh uraian di atas, maka hal yang perlu diketahui adalah penulis menyajikan pokok mengenai pendasaran kristologis atas pengakuan Yesus Kristus Peagabega ini dengan menggunakan pendekatan Kristus iman.[xxi] Pendekatan yang dimaksud berpijak pada peristiwa inkarnasi Kristus dan karya-karya-Nya sesudah Ia mengalami kebangkitan. Dalam arti ini, misteri inkarnasi Kristus dan karya-Nya sesudah bangkit kini sudah tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu sehingga Ia dapat hadir dalam pelbagai kebudayaan.[xxii] Berkaitan dengan hal ini, Kristus yang bangkit dengan tubuh-Nya yang mulia (lih. 2Tes 2:14; Rom 6:4, 8:11) kini masih terus hidup di tengah-tengah segala suku bangsa melalui kuasa Roh Kudus-Nya.[xxiii] Demikian juga dengan peristiwa inkarnasi Kristus melampaui batas ruang dan waktu sehingga melalui nilai-nilai positif yang ada dalam setiap kultur terutama melalui tokoh-tokoh ideal, Ia pun dapat menampakan wajah-Nya. Oleh karena itu, penulis percaya bahwa Kristus melalui kuasa Roh Kudus-Nya masih terus berkarya di dunia ini, kini dan di sini (hic et nunc) sesuai dengan konteks khas setiap suku bangsa termasuk suku bangsa Migani melalui kehadiran-Nya dalam diri tokoh Peagabega.[xxiv]

Penulis juga amat menyadari bahwa Gereja mengingatkan untuk tidak memisahkan antara Yesus dari Nazaret dengan Kristus iman sebab merupakan satu diri pribadi yang tunggal dan tak terbagikan (bdk. Mat 16:16);[xxv] namun demikian, sebagai suatu tawaran dari penulis supaya masyarakat setempat lebih mudah mengenal dan menerima Yesus Kristus secara kontekstual, maka dengan tahu dan mau penulis menyajikannya demikian tanpa bermaksud mereduksi atau pun mengabaikan ajaran Gereja. Oleh karena itu, penulis sarankan untuk membaca kajian ini dari perspektif Kristus iman; dengan harapan dapat membantu umat setempat semakin mengimani Yesus Kristus sesuai pola kulturnya sendiri; sehingga dengan demikian pewartaannya sungguh-sungguh mendarat di hati umat.

CATATAN AKHIR:



[i] Kristofani (Yun. ‘pernyataan diri Kristus’) yang dimaksud dalam konteks ini adalah peristiwa-peristiwa penampakan Yesus Kristus sesudah mengalami kebangkitan-Nya. Selengkapnya lih. Gerald O’Collins, dkk., Kamus Teologi, hlm. 170. Dalam arti ini, penulis akan memaknai kehadiran Yesus Kristus sesudah kebangkitan-Nya dalam konteks orang Migani melalui tokoh ideal Peagabega.
[ii] Bdk. R.S. Sugirtharajah (peny.), Wajah Yesus di Asia, terj. oleh Ioanes Rakhmat, hlm. 340.
[iii] Bdk. Ensiklik Yohanes Paulus II tentang Amanat Misioner Gereja (Redemptoris Missio), hlm. 34-37.
[iv] Bdk. Ibid., hlm. 29, 34-37.
[v] Bdk. Anscar J. Chupungco, Penyesuaian Liturgi dalam Budaya (terj.), hlm. 76; Lih. juga, Ibid., hlm. 35-36.
[vi] Bdk. Dr. Tom Jacobs SJ, Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru, hlm. 13.
[vii] JB. Banawiratma, SJ, (Ed.), Kristologi dan Allah Tritunggal, hlm. 42.
[viii] Bdk. Dr. Tom Jacobs SJ, Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru, hlm. 62-63.
[ix] Bdk. Bernardus Boli Ujan, dkk (ed.), Liturgi Autentik dan Relevan, hlm. 37-38.
[x] Bdk. Peter C. Phan, In Our Own Tongues, hlm. Xii.
[xi] Bdk. Anscar J. Chupungco, Penyesuaian Liturgi dalam Budaya (terj.), hlm. 76-77; Lih. juga,  R.S. Sugirtharajah (peny.), Wajah Yesus di Asia, terj. oleh Ioanes Rakhmat, hlm. 340.
[xii] Bagian ini mengikuti inspirasi dari Agus A. Alua, Gambaran Makhluk Ideal Dalam Mitos-Mitos Irian Sebelum dan Setelah Bertemu Kristus, hlm. 106-107.
[xiii] Bdk. Bernardus Boli Ujan, dkk (ed.), Liturgi Autentik dan Relevan, hlm. 36.
[xiv] Bdk. ibid., hlm. 37-38.
[xv] Bdk. Tom Jacobs, SJ, IMANUEL: Perubahan dalam Perumusan Iman akan Yesus Kristus, hlm. 30-31.
[xvi] St. Darmawijaya, Pr, Pengantar Ke Dalam Misteri Yesus Kristus, hlm. 31.
[xvii] Bdk. Tom Jacobs, SJ, IMANUEL: Perubahan dalam Perumusan Iman akan Yesus Kristus, hlm. 30.
[xviii] Selengkapanya baca Dr. Tom Jacobs SJ, Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru, hlm. 18-21; Bdk. St. Eko Riyadi, Pr, Yesus Kristus Tuhan Kita, Mengenal Yesus Kristus dalam Warta Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius, 2011, hlm. 14-15, 103; Lih. juga, Dr. C. Groenen, ofm, Sejarah Dogma Kristologi,.... hlm. 12-13.
[xix] Bdk. Kongregasi untuk Ajaran Iman, “Deklarasi ‘Dominus Iesus’ (Pernyataan tentang ‘Yesus Tuhan’)”, dalam Seri Dokumen Gerejawi No. 60, hlm. 33-36.
[xx] Bdk. Anscar J. Chupungco, Penyesuaian Liturgi dalam Budaya, hlm. 76.
[xxi] Umat kristiani zaman sekarang dituntut untuk berani menerima tantangan nilai dan makna Yesus Kristus sebagaimana dimaklumkan Gereja perdana dengan berani melangkah dari pengalaman akan Yesus sejarah ke dalam pengakuan Kristus iman. Selengkapnya baca St. Darmawijaya Pr, Pengantar Ke Dalam Misteri Yesus Kristus, hlm. 55-56.
[xxii] Bdk. Bernardus Boli Ujan, dkk (ed.), Liturgi Autentik dan Relevan, hlm. 38.
[xxiii] Bdk. St. Eko Riyadi, Pr, Yesus Kristus Tuhan Kita, Mengenal Yesus Kristus dalam Warta Perjanjian Baru, hlm. 60-61; Lih. juga, Bernardus Boli Ujan, dkk (ed.), Liturgi Autentik dan Relevan, hlm. 37-38.
[xxiv] Bdk. Anscar J. Chupungco, Penyesuaian Liturgi dalam Budaya, hlm. 76-77.
[xxv] Ensiklik YOHANES PAULUS II tentang Amanat Misioner Gereja (Redemptoris Missio), hlm. 13; Lih. juga, Kongregasi untuk Ajaran Iman, “Deklarasi ‘Dominus Iesus’ (Pernyataan tentang ‘Yesus Tuhan’)”, dalam Seri Dokumen Gerejawi No. 60, hlm. 29.


Tuesday, 24 April 2018

TUJUAN GROUP WhatsApp "SUKU MIGANI" DAN LANGKAH-LANGKAH MENCAPAI TUJUAN GROUP SUKU MIGANI


                                                               Oleh Yeskiel Belau

Saudara dan saudariku yang terkasih, “Group WhatsApp “Suku Migani” ini dibuka dengan tujuan:

Foto Ikon Group Suku Migani

1. Mengangkat istilah Migani sebagai sapaan khas bagi identitas suku bangsa kita yang berasal dari daerah Dogandoga, Kemandoga, Weandoga dan Mbiandoga.

2. Menumbuhkan keyakinan yang tak terbantahkan di setiap benak kita yang berasal dari daerah Dogandoga, Kemandoga, Mbiandoga dan Weandoga bahwa istilah “Migani” adalah sapaan khas identitas suku bangsa kita yang benar, sejati dan sungguh sesuai dengan kehendak Allah.

3. Menggunakan sapaan Migani sebagai identitas suku bangsa dalam seluruh perjuangan hidup.

4. Menghapus kata moni sebagai istilah yang mengandung unsur penghinaan.

5. Saling membagi pengetahuan budaya suku Migani antar sesama anggota Group dan apa yang diketahui dijaga, pelihara dan lestarikan bersama sebagai ungkapan terimakasih kita kepada nenek moyang yang telah menerima dari Allah dan mewariskannya kepada kita serta kepada Allah sendiri yang telah memungkinkan semua itu bagi kita.

6. Mengajak semua anggota Group untuk merasa bahwa dirinya diutus untuk mulai mewartakan identitas suku bangsanya sebagai “Suku Bangsa Migani” kepada siapa pun yang ia jumpai di mana pun ia berada. Sehingga semua orang dari segala suku dan bahasa dapat menyebut kita orang Migani sejati.

  Saudara dan saudari anggota “Group WhatsApp “Suku Migani” yang terkasih, tujuan itu akan menjadi kenyataan kalau kita semua mengerti dan mulai dengan langkah-langkah sederhana seperti berikut ini:

1.Semua anggota Group mempunyai kemauan untuk mewujudkan tujuan di atas. Mempunyai kemauan berarti anggota Group merasa senang dan gembira untuk mulai bekerja mengangkat sapaan Migani serta memulainya. Pekerjaan yang dimulai ini diyakini bahwa ini demi kepentingan dirinya sendiri, keturunannya dan orang-orang sesuku bangsanya.

2.Semua anggota Group dapat berpikir tentang dirinya, keluarganya dan kebudayaannya dalam bingkai suku bangsa Migani sebagai sapaan yang sejalan dengan kehendak Allah dan sesudah itu mulai menulis atau merekam bagian tetentu yang diketahuinya itu serta selanjutnya bagikan hasil karya tersebut kepada sesama anggota Group.

3.Menerima dan menggunakan sapaan Migani sebagai Identitas Suku Bangsa kita dengan gembira.

4.Berani mengakui diri sebagai “Suku Bangsa Migani” di depan umum dan menolak istilah moni.

5.Menciptakan sesuatu yang bernilai serta mengandung unsur seni dan beri label Suku Migani. Upaya ini bisa dilakukan sesuai dengan minat dan bakat setiap anggota Group. Anggota Group yang mempunyai kemampuan menulis, bisa menulis. Yang bisa ciptakan lagu dan bernyanyi bisa ciptakan lagu menyanyikannya. Anggota yang mempunyai kemampuan anyam noken bisa melakukanya dan seterusnya sesuai dengan kemampuan.

6.Mulai bercerita tentang tradisi Suku Migani dan tujuan Group ini kepada sesama suku dalam keluarga maupun di luar keluarga dan selanjutnya kepada suku-suku lain yang kita jumpai.

Wednesday, 7 March 2018

HIDUP YANG MENGHIDUPKAN HIDUP


                                                             Yeheskiel Belau
  
Kata orang “hidup yang tidak direfleksikan tak layak untuk dijalani”, maka hidup ini perlu direfleksikan, apalagi merefleksikan perjalanan hidup panggilan sebagai calon imam. Refleksi perjalanan hidup panggilan sebagai calon imam ini penting, karena ini merupakan cerminan untuk menjadi yang lebih baik. Pertanyaaannya apa itu refleksi? Refleksi berasal dari kata “re dan flaxa”. Re artinya kembali. Flaxa artinya melengkung. Jadi, refleksi adalah kembali melengkung. Artinya; kembali melengkung ke arah dirinya sendiri. Melihat kembali seluruh pengalaman hidup dalam terang Iman akan Yesus Kristus. Kemudian mendirikan suatu sikap yang jelas untuk memaknai pengalaman tersebut dan juga sebagai kekuatan hidup ke depan. Refleksi hubungannya dengan panggilanku adalah melengkung ke arah panggilanku sendiri untuk melihat pengalaman perjalanan panggilanku pada semester ini seraya menyegarkan dan mengambil sikap yang jelas untuk menjalani panggilanku sebagai calon imam. 

Refleksi akhir semester ini merupakan refleksi lanjutan dari refleksi pada semester-semester sebelumnya. Refleksi pada semester ini juga, saya berusaha merefleksikan pengalaman hidup mengalami pembinaan-pembinaan di seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru secara umum dan secara khusus pembinaan yang telah saya alami bersama pastor pembinaku (Pater Yoseph Igitaro Pr). Sehubungan dengan itu, saya merasa bahwa proses pembinaan yang saya alami di sini telah mencakup berbagai segi: Pertama: Pembinaan manusia, sebagai dasar dari segala pembinaan panggilan Imamat. Kedua: Pembinaan Rohani; sebagai dasar dalam bersekutuh dengan Allah – mencari Yesus. Ketiga: Pembinaan Intelektual; memahami dan mengalami iman akan Yesus Kristus. Keempat: Pendidikan Pastoral; persekutuaan cinta kasih Yesus Kristus Sang Gembala Baik. 

Sejalan dengan segi-segi tersebut, saya ingin menjelaskan judul refleksi ini “Hidup yang menghidupkan hidup”. Jadi, judul refleksi ini betul-betul lahir dari kedalaman hatiku sendiri. Maka maksud judul Hidup yang menghidupkan adalah segala bentuk pembinaan panggilan yang sudah saya alami dan rasakan dari para pembina di Seminari Tinggi ini. Sedangkan hidup yang saya maksud adalah saya yang menerima seluruh proses pembinaan sebagai insan yang hidup ini. Artinya bahwa mereka (para pembina) yang telah menghidupkan panggilan Tuhan itu sudah berusaha menghidupkan panggilanku juga. Maka berikut ini saya dapat merefleksikan perjalanan panggilanku selama semester ini di Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru. 

Merefleksikan keempat segi pembinaan yang telah saya sebutkan di atas secara lengkap adalah mustahil dalam waktu sesingkat ini. Artinya bahwa saya dibatasi oleh waktu untuk merefleksikannya secara lengkap, berhubung informasi tentang refleksi yang baru saja saya peroleh pada hari ini (14/06/2014). Hal ini terjadi atas kesalahanku sndiri, sebab saat pertemuan keuskupan saya tidak hadir. Katidakhadiranku dalam pertemuan itu disebabkan oleh berita tentang kematian seorang saudari kami, sehingga kami (para Frater asal suku Migani) berduka hari itu. Selain itu, akhir-akhir ini saya juga agak sibuk membantu adik-adik yang baru datang dari kampung untuk studi di Jayapura. Kemudian alasan lainnya adalah menggarap dan mencari buku referensi untuk menulis skripsi saya.

Berdasar pada sejumlah alasan di atas, maka refleksi saya saat ini hanya bersifat rangkuman dari segi-segi yang dimaksud dan ditutup dengan penegasan atas panggilanku. Lantas, pembinaan manusia adalah dasar dari segala pembinaan panggilan Imamat selanjutnya bagiku. Oleh karena itu, saya sudah mengalaminya di lembaga pendidikan calon Imam ini. Pengalaman tersebut dialami dalam bentuk pembinaan pribadi dengan pastor pembina, pertemuan keuskupan, pertemuan bersama, rekoleksi/ret-ret bersama, nasehat-nasehat Injili saat perayaan Ekaristi harian, irama hidup komunitas, hidup bersama di wisma dan sebagainya.

Refleksiku atas proses pembinaan dan irama hidup yang saya lalui itu amat manusiawi, baik dan memang urgen untuk seorang calon imam. Namun saya merasa hampa, kosong dan tidak semangat lagi untuk menjalani panggilan imamatku ini. Hal ini bermula dari Bulan Desember Tahun 2012 di rumah Transit Timika saat saya diusir oleh Pater Dominikus Dulione Hodo Pr. Saat itu saya berlibur ke Bilogai, setelah mendapat ijin dari Bapak Harianto selaku pembina kami saat itu. Setelah liburan, saya hendak kembali ke Seminari lewat Timika dan saya penah singgah di Katedral Keuskupan Timika seraya melaporkan diri sebagai calon imam keuskupan Timika yang baru saja kembali dari liburan. Di sana saya disambut baik oleh Frater TOP dan Suster ekonom. Kemudian mereka mengarahanku ke rumah Transit, maka saya pun menuju ke rumah Transit dan  sesampaiku di sana, saya disambut oleh Pater Domin Hodo dengan amarah yang menurut saya tidak masuk akal. Amarah di seputar pembinaan bisa dapat dimaklumi, tetapi pertanyaan “kamu ada uang untuk bayarkah?” Dan, pernyataan “Orang yang tinggal di sini itu bayar tiga ratus ribu per-hari, jadi, kau pulang saja” yang diajukan padaku ini belum bisa saya terima. Sebab kehadiranku di rumah Transit sudah sesuai dengan arahan suster ekonom Keuskupan Timika saat itu. Namun pada akhirnya saya sudah diusir betul-betul, maka pada waktu yang sama saya sudah putuskan untuk tidak injak rumah itu lagi sampai kapan pun, karena mungkin Imam tidak membutuhkan calon Imam yang jatuh (berdosa).

Persoalan itu bisa dilihat dari berbagai sisi, tetapi bagiku sudah cukup, saya sudah ambil keputusan untuk tidak tinggal di rumah itu jika ada kesempatan ke sana. Sebab memang persoalan itu telah meredam semangat untuk menjalani panggilanku sampai di Seminari ini. Sehubungan dengan hal ini, sudah saya katakan bahwa semua proses pembinaan yang baik bagi calon imam itu belum berhasil mengembalikan semangat panggilanku. Saya justru mengalami kekosongan dan kekeringan panggilan. Oleh karena itu, dalam menjalani hidup panggilanku di Seminari selama semester ini masih berjalan atas dasar persoalan tersebut. Namun saya selalu berusaha untuk aktif dalam proses pembinaan, irama hidup komunitas dan membangun relasi yang baik dengan sesama. Niat ini juga merupakan berkat pendampingan Pater Yoseph Igitaro Pr sendiri yang bagi saya cukup rendah hati yang juga patut saya diteladani. Perjumpaanku dengan Pater Yoseph, saya masih bisa bertahan menjalani panggilanku sebagai calon Imam. Seandainya beliau tidak ada di sini, mungkin saya sudah mundur dari semester yang lalu.

Kualitas dan ketangguhan panggilanku yang amat rendah itu, terasa disiram, dipupuk dan ditumbuhkan oleh Bapa Uskupku sendiri saat ret-ret di Sentani. Saya secara pribadi merasa amat terbantu, karena mendapat banyak nasehat dan pesan untuk hidup bertahan menjalani panggilan lewat sikap dan pendampingan Bapa Uskup. Juga kujungan dubes Vatikan Mgr. Antonio Guido Filipazzi yang berbicara banyak tentang pentingnya panggilan imamat dapat menguatkan panggilanku.

Refleksi akhir semester ini saya akhiri dengan menegaskan kembali apa yang saya maksudkan dalam refleksi ini dan menegaskan juga panggilanku. Maksud saya reflesi itu penting, maka dalam reflesi ini saya telah mengungkapkan isi hatiku bahwa proses pembinaan yang saya butuhkan sebagai calon imam telah berlangsung dalam persoalan pribadiku yang saya kemukakan di atas. Namun hal itu tidak membuat saya harus mundur dari jalan panggilanku, karena ini menyangkut kecintaaku pada Kristus yang telah mengangkat saya dari parit.  Saat ini saya merasa panggilanku semakin bertumbuh dan saya harus tumbuhkan sampai menjadi Imam Keuskupan Timika. Saya adalah Yeheskiel Belau, calom Imam Keuskupan Timika, maka saya berniat membangun kematangan panggilan, kerohanian, kepribadiaan, hidup berkomunitas dan kerasulanlan secara baik.

The Best

PENGERTIAN FILSAFAT