Penulis
juga amat menyadari bahwa Gereja mengingatkan untuk tidak memisahkan antara
Yesus dari Nazaret dengan Kristus iman sebab merupakan satu diri pribadi yang
tunggal dan tak terbagikan (bdk. Mat 16:16);[xxv] namun demikian, sebagai suatu tawaran dari penulis
supaya masyarakat setempat lebih mudah mengenal dan menerima Yesus Kristus
secara kontekstual, maka dengan tahu dan mau penulis menyajikannya demikian
tanpa bermaksud mereduksi atau pun mengabaikan ajaran Gereja. Oleh karena itu,
penulis sarankan untuk membaca kajian ini dari perspektif Kristus iman; dengan
harapan dapat membantu umat setempat semakin mengimani Yesus Kristus sesuai
pola kulturnya sendiri; sehingga dengan demikian pewartaannya sungguh-sungguh
mendarat di hati umat.This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Friday, 27 April 2018
PENDASARAN TEOLOGI-KRISTOLOGIS ATAS PENGAKUAN YESUS KRISTUS PEAGABEGA
Penulis
juga amat menyadari bahwa Gereja mengingatkan untuk tidak memisahkan antara
Yesus dari Nazaret dengan Kristus iman sebab merupakan satu diri pribadi yang
tunggal dan tak terbagikan (bdk. Mat 16:16);[xxv] namun demikian, sebagai suatu tawaran dari penulis
supaya masyarakat setempat lebih mudah mengenal dan menerima Yesus Kristus
secara kontekstual, maka dengan tahu dan mau penulis menyajikannya demikian
tanpa bermaksud mereduksi atau pun mengabaikan ajaran Gereja. Oleh karena itu,
penulis sarankan untuk membaca kajian ini dari perspektif Kristus iman; dengan
harapan dapat membantu umat setempat semakin mengimani Yesus Kristus sesuai
pola kulturnya sendiri; sehingga dengan demikian pewartaannya sungguh-sungguh
mendarat di hati umat.Tuesday, 24 April 2018
TUJUAN GROUP WhatsApp "SUKU MIGANI" DAN LANGKAH-LANGKAH MENCAPAI TUJUAN GROUP SUKU MIGANI
Saudara dan saudariku yang terkasih, “Group WhatsApp “Suku Migani” ini dibuka dengan tujuan:
![]() |
| Foto Ikon Group Suku Migani |
1. Mengangkat istilah Migani sebagai sapaan khas bagi identitas suku bangsa kita yang berasal dari daerah Dogandoga, Kemandoga, Weandoga dan Mbiandoga.
2. Menumbuhkan keyakinan yang tak terbantahkan di setiap benak kita yang berasal dari daerah Dogandoga, Kemandoga, Mbiandoga dan Weandoga bahwa istilah “Migani” adalah sapaan khas identitas suku bangsa kita yang benar, sejati dan sungguh sesuai dengan kehendak Allah.
3. Menggunakan sapaan Migani sebagai identitas suku bangsa dalam seluruh perjuangan hidup.
4. Menghapus kata moni sebagai istilah yang mengandung unsur penghinaan.
5. Saling membagi pengetahuan budaya suku Migani antar sesama anggota Group dan apa yang diketahui dijaga, pelihara dan lestarikan bersama sebagai ungkapan terimakasih kita kepada nenek moyang yang telah menerima dari Allah dan mewariskannya kepada kita serta kepada Allah sendiri yang telah memungkinkan semua itu bagi kita.
6. Mengajak semua anggota Group untuk merasa bahwa dirinya diutus untuk mulai mewartakan identitas suku bangsanya sebagai “Suku Bangsa Migani” kepada siapa pun yang ia jumpai di mana pun ia berada. Sehingga semua orang dari segala suku dan bahasa dapat menyebut kita orang Migani sejati.
Saudara dan saudari anggota “Group WhatsApp “Suku Migani” yang terkasih, tujuan itu akan menjadi kenyataan kalau kita semua mengerti dan mulai dengan langkah-langkah sederhana seperti berikut ini:
1.Semua anggota Group mempunyai kemauan untuk mewujudkan tujuan di atas. Mempunyai kemauan berarti anggota Group merasa senang dan gembira untuk mulai bekerja mengangkat sapaan Migani serta memulainya. Pekerjaan yang dimulai ini diyakini bahwa ini demi kepentingan dirinya sendiri, keturunannya dan orang-orang sesuku bangsanya.
2.Semua anggota Group dapat berpikir tentang dirinya, keluarganya dan kebudayaannya dalam bingkai suku bangsa Migani sebagai sapaan yang sejalan dengan kehendak Allah dan sesudah itu mulai menulis atau merekam bagian tetentu yang diketahuinya itu serta selanjutnya bagikan hasil karya tersebut kepada sesama anggota Group.
3.Menerima dan menggunakan sapaan Migani sebagai Identitas Suku Bangsa kita dengan gembira.
4.Berani mengakui diri sebagai “Suku Bangsa Migani” di depan umum dan menolak istilah moni.
5.Menciptakan sesuatu yang bernilai serta mengandung unsur seni dan beri label Suku Migani. Upaya ini bisa dilakukan sesuai dengan minat dan bakat setiap anggota Group. Anggota Group yang mempunyai kemampuan menulis, bisa menulis. Yang bisa ciptakan lagu dan bernyanyi bisa ciptakan lagu menyanyikannya. Anggota yang mempunyai kemampuan anyam noken bisa melakukanya dan seterusnya sesuai dengan kemampuan.
6.Mulai bercerita tentang tradisi Suku Migani dan tujuan Group ini kepada sesama suku dalam keluarga maupun di luar keluarga dan selanjutnya kepada suku-suku lain yang kita jumpai.
Wednesday, 7 March 2018
HIDUP YANG MENGHIDUPKAN HIDUP
Yeheskiel Belau
Kata orang “hidup yang tidak direfleksikan tak layak untuk dijalani”, maka
hidup ini perlu direfleksikan, apalagi merefleksikan perjalanan hidup panggilan
sebagai calon imam. Refleksi perjalanan hidup panggilan sebagai calon imam ini penting,
karena ini merupakan cerminan untuk menjadi yang lebih baik. Pertanyaaannya apa
itu refleksi? Refleksi berasal dari kata “re
dan flaxa”. Re artinya kembali. Flaxa artinya
melengkung. Jadi, refleksi adalah kembali melengkung. Artinya; kembali
melengkung ke arah dirinya sendiri. Melihat kembali seluruh pengalaman hidup
dalam terang Iman akan Yesus Kristus. Kemudian mendirikan suatu sikap yang
jelas untuk memaknai pengalaman tersebut dan juga sebagai kekuatan hidup ke
depan. Refleksi hubungannya dengan panggilanku adalah melengkung ke arah
panggilanku sendiri untuk melihat pengalaman perjalanan panggilanku pada
semester ini seraya menyegarkan dan mengambil sikap yang jelas untuk menjalani
panggilanku sebagai calon imam. Refleksiku atas proses pembinaan dan irama hidup yang saya lalui itu amat manusiawi, baik dan memang urgen untuk seorang calon imam. Namun saya merasa hampa, kosong dan tidak semangat lagi untuk menjalani panggilan imamatku ini. Hal ini bermula dari Bulan Desember Tahun 2012 di rumah Transit Timika saat saya diusir oleh Pater Dominikus Dulione Hodo Pr. Saat itu saya berlibur ke Bilogai, setelah mendapat ijin dari Bapak Harianto selaku pembina kami saat itu. Setelah liburan, saya hendak kembali ke Seminari lewat Timika dan saya penah singgah di Katedral Keuskupan Timika seraya melaporkan diri sebagai calon imam keuskupan Timika yang baru saja kembali dari liburan. Di sana saya disambut baik oleh Frater TOP dan Suster ekonom. Kemudian mereka mengarahanku ke rumah Transit, maka saya pun menuju ke rumah Transit dan sesampaiku di sana, saya disambut oleh Pater Domin Hodo dengan amarah yang menurut saya tidak masuk akal. Amarah di seputar pembinaan bisa dapat dimaklumi, tetapi pertanyaan “kamu ada uang untuk bayarkah?” Dan, pernyataan “Orang yang tinggal di sini itu bayar tiga ratus ribu per-hari, jadi, kau pulang saja” yang diajukan padaku ini belum bisa saya terima. Sebab kehadiranku di rumah Transit sudah sesuai dengan arahan suster ekonom Keuskupan Timika saat itu. Namun pada akhirnya saya sudah diusir betul-betul, maka pada waktu yang sama saya sudah putuskan untuk tidak injak rumah itu lagi sampai kapan pun, karena mungkin Imam tidak membutuhkan calon Imam yang jatuh (berdosa).
Persoalan itu bisa dilihat dari berbagai sisi, tetapi bagiku sudah cukup, saya sudah ambil keputusan untuk tidak tinggal di rumah itu jika ada kesempatan ke sana. Sebab memang persoalan itu telah meredam semangat untuk menjalani panggilanku sampai di Seminari ini. Sehubungan dengan hal ini, sudah saya katakan bahwa semua proses pembinaan yang baik bagi calon imam itu belum berhasil mengembalikan semangat panggilanku. Saya justru mengalami kekosongan dan kekeringan panggilan. Oleh karena itu, dalam menjalani hidup panggilanku di Seminari selama semester ini masih berjalan atas dasar persoalan tersebut. Namun saya selalu berusaha untuk aktif dalam proses pembinaan, irama hidup komunitas dan membangun relasi yang baik dengan sesama. Niat ini juga merupakan berkat pendampingan Pater Yoseph Igitaro Pr sendiri yang bagi saya cukup rendah hati yang juga patut saya diteladani. Perjumpaanku dengan Pater Yoseph, saya masih bisa bertahan menjalani panggilanku sebagai calon Imam. Seandainya beliau tidak ada di sini, mungkin saya sudah mundur dari semester yang lalu.
Kualitas dan ketangguhan panggilanku yang amat rendah itu, terasa disiram, dipupuk dan ditumbuhkan oleh Bapa Uskupku sendiri saat ret-ret di Sentani. Saya secara pribadi merasa amat terbantu, karena mendapat banyak nasehat dan pesan untuk hidup bertahan menjalani panggilan lewat sikap dan pendampingan Bapa Uskup. Juga kujungan dubes Vatikan Mgr. Antonio Guido Filipazzi yang berbicara banyak tentang pentingnya panggilan imamat dapat menguatkan panggilanku.
Refleksi akhir semester ini saya akhiri dengan menegaskan kembali apa yang saya maksudkan dalam refleksi ini dan menegaskan juga panggilanku. Maksud saya reflesi itu penting, maka dalam reflesi ini saya telah mengungkapkan isi hatiku bahwa proses pembinaan yang saya butuhkan sebagai calon imam telah berlangsung dalam persoalan pribadiku yang saya kemukakan di atas. Namun hal itu tidak membuat saya harus mundur dari jalan panggilanku, karena ini menyangkut kecintaaku pada Kristus yang telah mengangkat saya dari parit. Saat ini saya merasa panggilanku semakin bertumbuh dan saya harus tumbuhkan sampai menjadi Imam Keuskupan Timika. Saya adalah Yeheskiel Belau, calom Imam Keuskupan Timika, maka saya berniat membangun kematangan panggilan, kerohanian, kepribadiaan, hidup berkomunitas dan kerasulanlan secara baik.














