Video Of Day

Subscribe Youtube

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Monday, 30 April 2018

AMAKANEE


Yeskiel Belau

Pengantar

Foto Yeskiel Belau
Kata amakanee pernah kita dengar dari ucapan sesama dalam perjumpaan. Sesama yang mengucapkan kata ini tentu mempunyai niat yang baik, karena kata amakanee adalah sapaan salam khas suku bangsa Migani. Sapaan salam khas suku bangsa Migani ini bisa diucapkan oleh siapa pun dan kapan pun. Artinya bahwa sapaan salam amakanee ini bisa diucapkan oleh kaum bapak, kaum mama maupun anak-anak. Waktu pengucapannya juga bisa ucapkan pada pagi hari, sore maupun malam hari. Kenyataan ini membuktikan adanya makna yang tersirat di dalamnya. Maka dalam tulisan ini saya akan menampilkan makna sapaan amakanee ini. Dalam hal ini, akan saya mengawali dengan definisi sapaan amakanee. Semoga upaya ini dapat memberikan pemahaman tentang sapaan ini dan bisa digunakan dalam perjumpaan dengan sesama.

Definisi Amakanee

Kata amakanee berasal dari bahasa Migani (Miga Dole). Kata amakanee yang berasal dari Miga Dole ini terdiri dari dua kata, yaitu; “ama dan kanee”. Ama artinya; pertama, mama. Secara luas kata ama mengandung sapaan untuk semua mama. Kedua, mama saya. Pembuktiannya adalah huruf “a” pertama pada kata ama bisa menjadi satu kata tersendiri yang mempunyai arti saya. Jadi, huruf “a” menunjuk pada diri si pengucap sapaan yang dimaksud. Ketiga, susu manusia (pria maupun wanita). Maka saat orang Migani memberikan salam kepada sesama dengan ucapan amakanee, mereka selalu sertakan juga dengan ekspresi mengarahkan tangan kanan mereka pada dadanya tempat susu mereka berada. Sedangkan kata “kanee” mengandung kata sifat yang bisa dimengerti sebagai penyerahan sesuatu. Dalam konteks ini diartikan sebagai penyerahan salam yang mendalam dan iklas kepada pemberi salam. 

Makna Amakanee

Berdasarkan pengetahuan definisi kata amakanee yang telah kita peroleh di atas, maka selanjutnya kita akan melihat makna yang termuat di dalamnya. Mari kita memulainya: Kata ama atau mama mengandung dua makna besar. Pertama, ama atau mama saya yang mengandung, melahirkan dan mengasihi keluarga. Kedua, ama atau mama “alam”. Alam dikatakan mama, karena dalam tradisi orang Migani “alam” selalu diidentikkan dengan mama. Alam yang dimaksud adalah tanah, bukit dan gunung, yang mempunyai peranannya sendiri-sendiri. Tanah yang dengan penuh kasih bersedia menumbuhkan dan menjadi tempat pijak serta hidup manusia Migani. Bukit dan gunung yang senantiasa mengalirkan air dan mengandung sejuta bahan material penunjang kebutuhan hidup manusia Migani dari masa ke masa hingga kini dan selamanya.

Demikianlah kenyataan yang selalu dihayati oleh suku bangsa Migani dalam sejarah hidupnya hingga kini dan seterusnya. Dengan pengakuan ini, maka berikut ini akan saya perlihatkan semua kata-kata yang telah membentuk sapaan amakanee secara terstruktur. Jadi, sapaan amakanee merupakan gabungan kata dari kata ama (mama/mama saya), ama (susu) dan EMO (alam). Kata-kata ini mengandung maknanya sendiri-sendiri. Berikut adalah penjelasan kata-kata yang membentuk sapaan amakanee tersebut. 

Pertama, mama. Dalam kata mama diyakini telah mengandung lambang “Kasih” dan merupakan sapaan penghargaan terhadap semua ibu.
Kedua, mama saya (ama). Dalam kata ini diyakini telah memuat makna ungkapan ekspresi cinta dan pengakuan seseorang kepada ibunya sendiri yang mengandung, melahirkan dan menyusui dia dengan penuh kasih sayang. Kasih inilah yang hendak dia teturskan kepada sesama lewat sapaan salam amakanee

Ketiga, susu ibu (ama), yang berarti lambang kehidupan ini. Susu yang memberikan kekuatan atau energi (susu ibu sama dengan makanan) bagi bayi manusia. Bayi manusia akan tetap hidup, bertumbuh dan berkembang sebagai manusia sempurna dengan meminum susu ibu. 

Keempat, alam (Emo), yakni; dasar kasih dari semua itu. Emo mendasari seluruh seluk-beluk dan dinamika hidup orang Migani. Karena itu, manusia Migani meyakini bahwa Emolah yang memungkinkan keberadaannya di Wilayah Dogandoga, Kemandoga, Mbiandoga dan Weandoa. Karena Emo bersedia memberikan dirinya untuk tinggal di dalamnya dan menikmatinya turun-temurun. Peranan Emo amat sentral dan sebagai nadi dalam segi kehidupan, Ia luas dan melampaui akal pemikiran manusia Migani.

Dengan mengetahui beberapa kata yang membentuk sapaan salam khas orang Migani tersebut, kita dapat merumuskan suatu makna yang bisa dijadikan sebagai pegangan bagi kita ke depan. Rumusan yang dimaksud adalah bahwa sapaan salam khas suku bangsa Migani “amakanee” mengandung unsur manusiawi dan Rohani yang amat penting. Manusiawi artinya; ia memuat sumber kasih kepada sesama manusia. Hal ini berarti bahwa sapaan amakanee benar-benar mengandung penghargaan kasih yang kekal di masa lalu atau yang melatar-belakanginya, mengandung sikap sopan-santun, kebaikan, menghormatan, persahabatan dan harapan akan adanya perwujudan “Cinta Kasih” yang sempurna dan keharmonisan hidup antara sesama manusia. Rohani artinya; memuat spirit yang bersumber dari Emo yang melampaui dan mendasari manusia serta segala sesuatu. Amakanee mengandung Kasih Emo yang meluap dan yang amat besar.  

Kasih Emo itulah yang terpancar pada manusia Migani untuk hidup bagi dirinya sendiri maupun diteruskannya kepada sesama dengan sapaan sederhana itu. Jadi, sapaan amakanee adalah penyerahan pancaran kasih ama yang sempurna secara total kepada sesama manusia untuk hidup berdamai, bersahabat, bermartabat dan harmonis. Pengertian ini membantu kita untuk mengerti akan arti kata amakane sebagai penyerahan kasih kepada sesama dengan ekspresi khasnya. Inilah sapaan khas suku bangsa Migani yang mengandung kasih.

Penutup 

Demikianlah tulisan ini saya akhiri dengan menampilkan harapan saya sebagai penulis. Harapan saya sebagai penulis sehubungan dengan sapaan amakanee ini adalah supaya semua orang yang mendengar dan mengucapkan sapaan amakanee lantas mengerti akan arti dan makna yang telah saya jelaskan di atas dan selanjutnya menumbuhkan niat baik, membagi kasih dan menerima kasih serta selalu berusaha membuktikan kasih itu dalam hidup sehari-hari lewat seluruh sikap hidup.

Amakanee…!



Friday, 27 April 2018

KEMUNGKINAN PEWARTAAN YESUS KRISTUS DALAM KONTEKS SUKU MIGANI


(Sebuah Tawaran Berkristologi Kontekstual)
Oleh
Kleopas Sondegau MIGANIJU
(Mahasiswa Magister  Ilmu Teologi Pasca-Sarjana, Universitas Katolik Parahyangan Bandung).


Pembahasan pada bagian ini akan dilihat dalam kaitannya dengan nilai-nilai positif yang pernah ditunjukkan oleh tokoh ideal Peagabega ketika masih hidup di tengah-tengah kebudayaan suku bangsa Migani. Nilai-nilai positif yang dimaksud akan dibeberkan oleh penulis sebagai suatu tawaran dalam rangka pewartaan Yesus Kristus dalam konteks orang Migani. Penulis menyadari bahwa sebelum Peagabega diinkulturasikan ke dalam liturgi Gereja, kisah tentang Peagabega semula hanya dimiliki dan diketahui oleh klan tertentu seperti klan Nabelau, Pogau, Bagubau dan Agimbau. Namun dengan adanya perjumpaan antara kultur orang Migani dengan Gereja, maka setelah melewati proses yang panjang akhirnya Peagabega pun diinkulturasikan dalam liturgi Jumat Agung.
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis sebagai bagian dari orang Migani Katolik, upaya inkulturasi yang dilaksanakan di Paroki Bilogai hanya terbatas pada kisah penangkapan dan pembunuhan Peagabega. Kisah yang demikian diinkulturasikan dalam liturgi Jumat Agung untuk mengenang kisah sengsara dan wafat Kristus di atas kayu salib. Dalam proses upacara Jumat Agung yang dilaksanakan pada setiap tahun, para pemeran tokoh Yesus selalu diberi nama Peagabega sehingga dalam liturgi tersebut terjadi integrasi nilai-nilai kultural dengan liturgi resmi Gereja. Dalam arti ini, tidak semua nilai-nilai positif yang telah ditunjukkan Peagabega diinkulturasikan ke dalam liturgi Gereja. Hal ini tampak dari tidak adanya lagu-lagu, doa-doa maupun katekese-katekese yang diajarkan dan dipraktekkan secara bersama untuk ditujukan kepada tokoh ideal Peagabega. Padahal praktek perayaan iman yang dilakukan secara kontekstual dengan memasukkan nilai-nilai positif lain dari teladan hidup Peagabega selain inkulturasi kisah penangkapan dan pembunuhannya dalam liturgi Jumat Agung mampu menghantar umat setempat semakin mengenal dan beriman kepada Yesus Kristus.

Dengan melihat dan mengalami realitas seperti itu, maka penulis hendak menawarkan sejumlah nilai-nilai positif yang telah direfleksikan berdasarkan teladan hidup Peagabega untuk kemudian dijadikan sebagai sarana pewartaan Kristus dalam konteks masyarakat setempat. Dalam hal ini, tema-tema yang akan disajikan oleh penulis merupakan sebuah tawaran bagi para petugas pastoral maupun umat setempat untuk bisa diinkulturasikan dalam liturgi Gereja sehingga pewartaannya sungguh kontekstual. Berikut ini adalah nilai-nilai positif yang dimaksud dalam upaya mewartakan Yesus Kristus dalam konteks orang Migani:
Pertama, peka terhadap situasi di sekitarnya. Orang Migani selalu hidup berkomunitas. Maka itu, mereka sangat menjunjung tinggi nilai kebersamaan ketimbang mementingkan diri dan kelompoknya sendiri. Tokoh Peagabega selama hidupnya pun selalu peka terhadap sesama yang lain. Ia mengharapkan kehidupan yang ideal bagi orang Migani sehingga segala niat jahat selalu dicegah. Peagabega tidak akan meninggalkan sesamanya hidup dalam kesulitan dan penderitaan. Oleh karena itu, dalam katekese-katekese bisa diangkat tema mengenai bagaimana orang Migani harus mengasah kepekaan terhadap sesama yang menderita dan membutuhkan perhatian sebagaimana Peagabega lakukan selama hidup. Upaya untuk bersikap peka terhadap sesama dan lingkungan di sekitar merupakan bagian dari keutamaan Kristus juga sebab Ia selalu melayani setiap orang melalui sikap kepekaan yang dimiliki-Nya.

Kedua, berkata jujur (wugumadole hindia). Orang Migani diharapkan untuk selalu berbicara jujur dalam berelasi dengan sesama. Melalui sikap kejujuran tersebut orang Migani akan terhindar dari prasangka-prasangka negatif yang dapat memecah belah satu dengan yang lain. Selama hidupnya, Peagabega selalu berkata benar atau tidak berbohong terhadap sesama yang dijumpainya. Oleh karena itu, Peagabega telah memberi teladan hidup yang baik kepada orang Migani agar selalu berbicara dengan jujur. Hal ini sesuai dengan anjuran Tuhan sendiri agar tidak bersaksi dusta terhadap sesama manusia (ingat Sepuluh Firman Allah yang ke-8). Teladan hidup Peagabega untuk berkata jujur tidak dilakukan dengan cara mengajar seperti Yesus Kristus tetapi ia tunjukkan lewat sikap hidup.

Dalam arti ini dapat dikatakan bahwa kejujuran akan dialami dan dirasakan oleh setiap orang melalui perkataan yang diucapkan maupun lewat sikap hidup. Kita juga dapat melihat bagaimana misi keselamatan Allah yang dilaksanakan Kristus melalui sikap keterbukaan dan kejujuran itu ternyata tidak diterima dan dipahami dengan baik oleh masyarakat kala itu; sehingga Ia pun ditangkap, disiksa dan akhirnya mati di atas kayu salib. Namun demikian, keutamaan hidup yang diajarkan dan dipraktekkan oleh Kristus menjadi nyata melalui peristiwa kebangkitan-Nya dari alam maut. Dalam hal ini, kebangkitan Kristus hendak membuka mata setiap orang bahwa Yesus Kristus adalah pribadi yang telah mengajarkan kebenaran Allah melalui keterbukaan dan kejujuran. Sikap kejujuran ini amat penting bagi orang Migani agar mampu menciptakan kehidupan yang damai dan aman sebagaimana ditunjukkan Peagabega lewat sikap hidupnya. Dengan demikian, orang Migani mampu melaksanakan amanah Tuhan sendiri untuk tidak bersaksi dusta terhadap sesama manusia.

Ketiga, berbuat baik kepada semua orang. Selama Peagabega hidup, ia tidak pernah memilih-milih dalam berbuat baik. Semua orang Migani berhak untuk menikmati hidup yang damai, aman dan sejahtera (Usuama Tugiago Undiago Dinuota). Oleh karena itu, Peagabega selalu menunjukkan sikap hidup yang baik kepada setiap orang yang dijumpainya. Walaupun sikap hidup ideal yang ditunjukkan tersebut bertujuan untuk kebaikan bersama (bonum commune) namun sebagian masyarakat kala itu merasa kenyamanan hidupnya diganggu oleh kehadiran Peagabega sehingga ia pun ditangkap, disiksa dan kemudian dibunuh. Memang seorang pribadi yang berbuat baik kepada banyak orang tidak selalu diterima dengan keterbukaan hati sehingga sering kali memunculkan prasangka-prasangka negatif atas berbagai kebaikan yang dilakukan oleh tokoh tertentu. Berkaitan dengan hal ini, Yesus pun pernah mengalaminya. Walaupun Ia berbuat baik untuk banyak orang namun masyarakatnya sendiri menolak-Nya (lih. Luk 4:16-30). Sekalipun begitu, orang Migani diajak untuk selalu berbuat baik kepada sesama tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain; sebab perbuatan baik yang muncul dari ketulusan hati merupakan salah satu nilai Kristus sebagaimana yang diwujudkan oleh tokoh Peagabega dalam konteks kultur orang Migani.

Keempat, mencegah berbagai kejahatan. Dalam hal ini, Peagabega tidak pernah menginginkan hidup manusia Migani dihantui ketakutan karena berbagai kejahatan yang terjadi dalam hidup mereka. Oleh karena itu, sebagai bentuk perhatiannya ia selalu mencegah niat-niat jahat yang hendak dilakukan oleh oknum-oknum tertentu. Peagabega sebagai manusia ideal yang memiliki sifat manusiawi dan adi-manusiawi, maka ketika setiap orang yang hendak melakukan suatu kejahatan tertentu, ia pun hadir di tempat itu untuk mencegahnya. Nilai hidup seperti ini juga mesti dibangun dalam kehidupan orang Migani. Dalam hal ini, orang Migani diharapkan untuk bukan menjadi pelaku kejahatan tetapi pencegah kejahatan sehingga tatanan hidup moral, etik, sosial, kultural, dan religius tetap terjaga dengan baik sebagaimana Tuhan sendiri kehendaki bagi semua manusia termasuk manusia Migani (bdk. Sepuluh Firman Allah yang ke- 6 sampai 10).

Kelima, berdoa dan bernyanyi (jiwibulindaya mbaine jamone dia). Para tua adat yang sering berdoa dan bernyanyi untuk memohon keselamatan hidup ideal dari Peagabega bagi keluarganya bisa diangkat dan diinkulturasikan ke dalam liturgi Gereja. Dalam hal ini, walaupun doa dan lagu yang ditujukan kepada sang Peagabega tersebut bersifat rahasia dan sakral bagi para tua adat dalam klan tertentu namun bila hal itu diekspresikan secara bersama dalam liturgi seperti yang telah dilakukan terhadap EMO, maka penghayatan iman umat setempat terhadap Yesus Kristus dan ajaran-Nya akan semakin mengakar dalam kultur orang Migani. Dalam konteks ini, permohonan hidup ideal yang ditujukan kepada Peagabega bisa dikolaborasi dengan Kristus sebagai penyelamat sejati sehingga tokoh Peagabega menjadi sarana untuk sampai kepada Yesus Kristus. Oleh karena itu, para tua adat diharapkan untuk bersikap terbuka seperti yang telah dilakukannya ketika melaksanakan upacara Jumat Agung dengan tokoh Peagabega agar nilai-nilai kultural yang positif dapat dihayati secara bersama sehingga saling memperkaya antara nilai-nilai kristiani dengan nilai kultural setempat.

Keenam, melestarikan tanaman khas seperti kigimugi, dibilaba, aebugi dan musi iji. Ketika Peagabega melakukan karya-karya keselamatan bagi orang Migani, ia menggunakan tanaman-tanaman khas tersebut untuk mencegah kematian dan bencana alam seperti banjir dan longsor. Oleh karena itu, orang Migani perlu melestarikannya dengan cara menanam di sekitar rumah dan di tempat-tempat tertentu agar jenis tumbuhan tersebut tidak punah oleh karena adanya perkembangan zaman. Tujuan dari pelestarian itu adalah agar kehidupan orang Migani terhindar dari bahaya malapetaka. Dalam arti ini, Tuhan juga selalu hadir dan menyapa setiap suku bangsa termasuk suku bangsa Migani melalui unsur-unsur kebudayaan yang ada sebagai salah satu cara untuk menampakan wajah-Nya. Maka itu, tujuannya bukan supaya menyembah sejumlah tanaman khas tersebut tetapi dilihat sebagai sarana yang digunakan oleh Tuhan untuk memberi keselamatan hidup sejati kepada orang Migani melalui perantaraan sang tokoh Peagabega.
Empat jenis tanaman khas yang pernah dipakai Peagabega kala itu:

Bapak Benny Sondegau sedang menunjuk Rumput Kigimugi
Rumput Dibilaba Kelihatan Hijau di bahwah
Keladi Aebugi
Musi Iji
Ketujuh, tidak menaruh iri hati dan dendam terhadap sesama. Dalam hidupnya, Peagabega dimusuhi banyak orang. Ia dimusuhi bukan karena melakukan kejahatan tetapi justru sebaliknya berbuat baik kepada sesama. Oleh karena adanya sikap iri hati dan dendam terhadap Peagabega maka ia pun akhirnya ditangkap dan dibunuh. Sikap seperti ini harus dihindari oleh orang Migani pada zaman sekarang. Orang Migani harus memberi apresiasi kepada orang tertentu yang telah menunjukkan kebaikan bagi semua orang dan bukan sebaliknya menaruh iri hati dan dendam. Oleh karena itu, setiap orang dituntut untuk mengembangkan setiap talenta atau kharisma yang diberikan oleh Tuhan (lih. 1Kor 12:1-11) agar  dapat membawa kebaikan diri, sesama dan terutama demi kemuliaan Tuhan.

Kedelapan, tidak membunuh. Terkait dengan hal ini, orang Migani harus sadar bahwa kehidupan setiap manusia adalah milik Tuhan. Maka itu, Tuhanlah yang berhak atas hidup setiap orang. Oleh karena itu, tindakan membunuh sesama manusia merupakan suatu perbuatan yang tidak dikehendaki oleh Tuhan sendiri (ingat Sepuluh Firman Allah yang ke- 5). Dalam hal ini, perbuatan para leluhur orang Migani yang pernah membunuh Peagabega tersebut tidak perlu ditiru oleh generasi masa kini. Orang Migani perlu menghargai kehidupan sesama manusia dengan cara tidak membunuh sebagaimana Tuhan ingatkan kepada seluruh umat manusia melalui Sepuluh Firman-Nya.

Kesembilan, menghargai orang yang telah lanjut usia. Setiap orang Migani lahir dan besar dalam lingkungan sebuah keluarga. Dalam keluarga tersebut ada ayah dan ibu sebagai orangtua yang melahirkan anak-anak. Apapun alasannya setiap orang akan mengalami masa tua. Oleh karena itu, orang Migani harus menghindari sikap mengeluh dan apalagi merasa diri repot mengurusi segala kebutuhan orangtua yang telah lanjut usia. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah apabila ada yang mengatakan “lebih baik orangtua itu mati cepat daripada merepotkan orang muda yang masih hidup”. Sikap seperti ini pernah terjadi ketika Peagabega masih hidup di tengah-tengah orang Migani. Oleh sebab itu, sikap untuk tidak menghargai orangtua harus ditinggalkan oleh orang Migani karena Tuhan sendiri melalui Firman-Nya mengatakan “Hormatilah Ibu-Bapamu” (ingat Sepuluh Firman Allah yang ke-4).

TOKOH PEAGABEGA SEBAGAI SARANA DALAM PEWARTAAN KRISTUS DI WILAYAH SUKU MIGANI


Oleh
Kleopas Sondegau MIGANIJU
(Mahasiswa Magister  Ilmu Teologi Pasca-Sarjana, Universitas Katolik Parahyangan Bandung).



Foto Kleopas Sondegau Dokumen Pribadi.
Perjumpaan Gereja dengan kultur orang Migani membantu masyarakat setempat menggali kembali nilai-nilai positif yang terdapat dalam kebudayaan mereka. Nilai-nilai positif yang digali oleh umat setempat antara lain adanya kepercayaan terhadap Wujud/Daya Tertinggi yakni EMO sebagai sang pencipta alam semesta, penghayatan terhadap nilai-nilai adat yang positif sebagai standar etika, moral, dan sosial serta adanya penghayatan terhadap sejumlah tokoh ideal/mitis seperti tokoh Duanisuani, Soti, Meti, Wati dan Peagabega. Dari sejumlah unsur kultural tersebut, orang Migani menampilkan tokoh Peagabega sebagai Yesus menurut pola kebudayaannya sendiri. Peagabega dianggap Yesus karena kisah hidupnya mirip dengan kisah hidup tokoh historis Yesus dari Nazaret sebagaimana dimaklumkan Gereja kepada mereka. Dalam hidupnya, Peagabega sangat populer kala itu karena perkataan dan perbuatannya sungguh mengagumkan banyak orang. Peagabega tidak mengajar seperti Yesus lakukan kepada para pengikut-Nya tetapi ia tunjukkan hidup yang baik secara etis, sosial dan moral kepada orang-orang Migani melalui sikap hidupnya.

Pada akhirnya orang Migani menyadari bahwa ternyata Yesus Kristus yang dimaklumkan Gereja itu mirip dengan kisah hidup dan karya tokoh Peagabega yang terdapat dalam kebudayaan mereka.[i] Oleh karena itu, mengetahui segala yang dilakukan Peagabega dalam kehidupan orang Migani, maka masyarakat setempat mulai melihat dan memaknai hal-hal yang sama pada diri Kristus, yakni keduanya memiliki sifat manusiawi dan adi-manusiawi, kisah hidupnya berbeda dan unik dari orang-orang yang hidup pada zamannya, Kristus datang ke dunia untuk mewartakan Kerajaan Allah[ii] dan Kerajaan Allah yang diwartakan bukan soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Rom 14:17) mirip dengan apa yang dilakukan Peagabega yaitu memberi umur panjang, mencegah berbagai kejahatan, kematian, dan juga mencegah terjadinya bencana alam seperti banjir dan longsor. Selain itu, sikap dan teladan hidup Peagabega mengenai pentingnya memperjuangkan kebenaran dan keadilan yang diwujudkan melalui sikap hidup sama dengan ajaran Kristus kepada murid-murid-Nya dan kepada semua orang yang Ia layani.[iii] Dalam ceritera Peagabega juga dikatakan bahwa ia dalam hidup dan karyanya mendatangkan konflik dalam masyarakat umum mirip dengan hidup dan karya Yesus yang dianggap melawan tradisi orang Yahudi.[iv] Begitu pun dengan kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus memiliki kemiripan dengan ceritera tentang pembunuhan dan “kebangkitan” Peagabega.

Bertolak dari penjelasan tersebut maka tokoh ideal Peagabega telah dijadikan sarana oleh Gereja bersama umat setempat untuk berkristologi kontekstual. Dalam rangka menggali sebuah kristologi yang kontekstual, maka tokoh Peagabega dilihat sebagai sarana kultural yang cocok bagi orang Migani dalam upaya menerima dan mengimani Yesus Kristus. Dalam arti ini, tokoh Peagabega merupakan medium yang dipakai Gereja bersama umat setempat dalam rangka mengimani Yesus Kristus secara lebih mendalam lagi. Maka itu, jelaslah bahwa Peagabega bukanlah tujuan dan sasaran iman melainkan hanya sebagai sarana. Oleh karena itu, penghayatan iman yang kontekstual melalui tokoh Peagabega ini dapat menghantar orang Migani pada tujuan yang sesungguhnya yakni agar mereka semakin beriman kepada Yesus Kristus sebagai puncak Wahyu dan pusat iman kristiani.[v] Inilah tujuan utama yang hendak dicapai oleh Gereja bersama orang Migani Katolik di Paroki Bilogai melalui upaya inkulturasi tokoh Peagabega dalam liturgi Jumat Agung.

Pengungkapan iman yang kontekstual tersebut amat membantu orang Migani dalam menghayati Yesus Kristus secara lebih mendalam. Maka itu, hasil akhir yang hendak dicapai melalui upaya inkulturasi tokoh Peagabega dalam liturgi Jumat Agung adalah agar orang Migani dapat berkristologi secara kontekstual; sehingga dengan demikian, mereka mampu mengungkapkan imannya akan Yesus Kristus sesuai dengan pola kulturnya sendiri.[vi] Maka, melalui pewartaan Gereja mengenai Kristus dan ajaran-Nya tersebut, orang Migani pun mulai menerima, menghayati, dan kemudian mengakui Yesus Kristus sebagai puncak Wahyu, mediator Allah dan manusia, serta pusat iman kristiani. Pengakuan ini tentu muncul karena mereka percaya, dalam hal ini, mereka mempunyai pengalaman iman. Pengalaman iman mereka itu tentu berbeda dengan pengalaman para rasul dan orang-orang Yahudi, yang secara fisik dapat melihat, mendengarkan dan menjamah Yesus secara langsung.[vii] Maka dapat dikatakan bahwa pengalaman iman orang Migani melalui tokoh Peagabega dilihat sebagai bagian dari karya Roh Kudus dalam konteks kebudayaan setempat.[viii]

Dalam kaitannya dengan karya Roh Kudus tersebut, refleksi iman yang sesuai konteks juga merupakan karya Roh Kudus bagi setiap orang di berbagai kebudayaan. Karya Roh Kudus yang dimaksud bersandar pada dimensi Kristus iman (fungsional) yang hadir dan menyapa setiap suku bangsa di dunia ini dalam bentuk/wujud yang lain, terutama sesudah mengalami kebangkitan-Nya.[ix] Dengan demikian, setiap orang mengalami Roh Kudus dalam situasi dan konteks kebudayaannya yang konkret. Dalam hal ini, setiap orang berusaha untuk mendalami arti Yesus Kristus dalam hidup dengan berpangkal pada pengalamannya sendiri. Maka, sejak Konsili Vatikan II Gereja semakin menyadari dirinya bukan hanya sebagai penderma agung yang menyampaikan kebenaran-kebenaran kepada dunia, melainkan juga sebagai penerima. Dalam hal ini, budaya-budaya yang mendengarkan pewartaan mengenai Yesus Kristus dapat memperkaya Gereja.[x]

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa upaya inkulturasi tokoh Peagabega dalam liturgi Gereja hendak menunjukkan adanya kekayaan nilai kultural yang positif dalam kehidupan suku bangsa Migani. Kekayaan nilai kultural tersebut diambil oleh Gereja sebagai sarana dalam memperkenalkan Kristus dan ajaran-Nya kepada orang Migani; sehingga dengan demikian, pewartaannya sungguh-sungguh mengakar dalam kultur setempat.[xi] Dalam hal ini, Gereja tidak bersikap eksklusif terhadap nilai-nilai positif yang terdapat di dalam setiap suku bangsa di dunia ini.[xii] Atau dengan kata lain, Gereja tetap bersikap inklusif dan siap menerima nilai-nilai kultural yang positif untuk kemudian dijadikan sarana dan partner dialog dalam menyampaikan warta tentang Yesus Kristus sesuai konteks kebudayaan setempat;[xiii] dan tentu sejauh nilai-nilai tersebut tidak bertentangan dengan ortodoksi iman Katolik; sehingga dengan demikian, umat setempat semakin mengenal, menghayati dan kemudian mengakui Kristus sebagai Kepenuhan Wahyu Allah dan satu-satunya penyelamat umat manusia.[xiv]

CATATAN AKHIR:



[i] Bdk. Stephen B. Bevans, Model-Model Teologi Kontekstual, Maumere: Ledalero, 2002, hlm. 162-163.
[ii] Bdk. Frans Harjawiyata, Yesus dan Situasi Zaman-Nya, Yogyakarta: Kanisius, 1998, 106-125; Lih. juga, Dr. C. Groenen, OFM, Peristiwa Yesus, Yogyakarta: Kanisius, 1979, hlm. 66-91.
[iii] Bdk. B. F. Drewes, Satu Injil Tiga Pekabar, Jakarta: Gunung Mulia, 2001, hlm. 208-212.
[iv] Bdk.  I. Suharyo, Pengantar Injil Sinoptik, Yogyakarta: Kanisius, 1989, hlm. 21.
[v] Bdk. JB. Banawiratma, SJ, (Editor), Kristologi dan Allah Tritunggal, hlm. 24-25.
[vi]Bdk. Daniel, J. Adams, Teologi Lintas Budaya, Jakarta: Gunung Mulia, 1992, hlm. 63.
[vii] Bagian ini mengikuti pemikiran JB. Banawiratma, SJ, (Editor), Kristologi dan Allah Tritunggal, hlm. 42.
[viii] Bdk. Kongregasi untuk Ajaran Iman, “Deklarasi ‘Dominus Iesus’ (Pernyataan tentang ‘Yesus Tuhan’)”, dalam Seri Dokumen Gerejawi No. 60, Dokpen KWI, Jakarta: KWI, 2001, hlm. 32.
[ix] Anscar J. Chupungco, Penyesuaian Liturgi dalam Budaya (terj.), Yogyakarta: Kanisius, 1987, hlm. 76; Lih. juga, RMi 28.
[x] JB. Banawiratma, SJ, (Editor), Kristologi dan Allah Tritunggal, hlm. 42-43; Bdk. De Liturgia Romana et Inculturazione (Liturgi Romawi dan inkulturasi), dalam Seri Dokumen Gerejawi No. 40, Dokpen KWI, Jakarta: KWI, 2004, hlm. 13-14; Lih. juga, RMi. 63.
[xi] Bdk. Bernardus Boli Ujan, dkk (ed.), Liturgi Autentik dan Relevan, hlm. 74-75; Bdk. EN 63, GS, art. 44.
[xii] Selengkapnya baca GS, art. 58.
[xiii] Dalam proses menjumpai pelbagai kebudayaan dunia, Gereja tidak hanya menyalurkan kebenaran-kebenaran dan nilai-nilainya, tetapi mengangkat juga dari pelbagai kebudayaan unsur-unsur positif yang sudah terdapat di dalamnya. Lih. Yohanes Paulus II: Anjuran Apostolik Pasca Sinodal di New Delhi tentang Gereja di Asia (Church in Asia), dalam Seri Dokumen Gerejawi No. 57, Dokpen KWI, Jakarta: KWI, 1990, hlm. 54.
[xiv] Bdk. Kongregasi untuk Ajaran Iman, “Deklarasi ‘Dominus Iesus’ (Pernyataan tentang ‘Yesus Tuhan’)”, dalam Seri Dokumen Gerejawi No. 60, hlm. 22-27.


GAMBARAN KRISTUS YANG DIMAKLUMKAN GEREJA DALAM KULTUR SUKU MIGANI


Oleh Kleopas Sondegau MIGANIJU
(Mahasiswa Magister  Ilmu Teologi Pasca-Sarjana, Universitas Katolik Parahyangan Bandung).

Foto Kleopas Sondegau
Dokumen pribadi.
Gereja memaklumkan kepada orang Migani bahwa tokoh Yesus merupakan seorang pribadi yang paling berpengaruh dalam sejarah.[i] Ia seorang Yahudi dari Galilea, keturunan Daud dan anak seorang perempuan bernama Maria, istri Yosef, seorang tukang kayu dari Nazaret.[ii] Sesudah dibaptis oleh Yohanes, Yesus mewartakan Kerajaan Allah melalui berbagai karya (mukjizat-mukjizat) dan ajaran-Nya (perumpamaan-perumpamaan). Yesus banyak bergaul dengan orang-orang kecil, yang menderita dan tersisih. Dalam kehidupan-Nya itu Ia dianggap melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kebiasaan hidup orang Yahudi seperti menantang cara hidup saleh (Mat 6:1-18), keinginan-Nya untuk meluruskan tradisi-tradisi tertentu (Mrk 7:1-21), sikap-Nya terhadap Kenisah di Yerusalem (Mrk 14:58; 15:29), dan pelanggaran-Nya terhadap peraturan Sabat (Mrk 2:23-27).[iii]

Kehidupan yang demikian menimbulkan perlawanan dari beberapa pemimpin dan guru Yahudi. Oleh karena itu, Yesus dijatuhi hukuman mati oleh Pontius Pilatus, disalibkan, dan selanjutnya dikuburkan. Sesudah itu, tepat pada hari ketiga Ia pun bangkit lalu menampakkan diri kepada para murid. Demikianlah para murid mengakui dan mewartakan bahwa Yesus yang bangkit dan mulia adalah Kristus (atau Mesias), Penyelamat, Tuhan, dan Anak Allah.[iv]

Selain pewartaan Gereja tentang Yesus Kristus di atas, ada juga sejumlah gambaran Kristus yang diperkenalkan kepada orang Migani. Gambaran Kristus yang dimaksud akan mengikuti pemikiran Agus A. Alua mengenai “Gambaran Kristus yang Dipertemukan kepada Orang Irian”. Sejumlah gambaran Kristus yang dimaklumkan oleh Gereja seperti yang disebutkan Agus Alua kurang lebih pewartaan yang sama terjadi juga dalam suku bangsa Migani, yakni: Pertama, pewartaan mengenai Kristus yang wafat dan bangkit. Pada aspek ini Gereja lebih menonjolkan Kristus yang bangkit dan dimuliakan oleh Allah dari cengkeraman maut. Ditekankan juga bahwa Kristus telah mengalahkan maut dan bagi siapa yang percaya akan dibangkitkan oleh Kristus pada akhir zaman. Maka itu, kematian bagi orang kristen bukan akhir dari kehidupan melainkan awal dari hidup baru sama seperti Kristus yang telah mengalahkan maut dan mengaruniakan kehidupan baru.

Kedua, Kristus Sang Penyelamat. Pada aspek ini Gereja mewartakan bahwa Kristus adalah satu-satunya penyelamat manusia. Orang yang percaya kepada-Nya dan melakukan hal-hal baik akan memperoleh ganjaran keselamatan dari Tuhan di akhir zaman. Di luar Kristus dan Gereja-Nya tidak ada keselamatan (Extra Ecclesiam Nulla Salus). Maka, orang supaya selamat harus dikristenkan. Keselamatan dalam dunia ini kurang sempurna dan belum definitif karena keselamatan definitif akan terjadi di surga pada pengadilan terakhir. Untuk itu, kaum beriman harus menerima sejumlah paket sakramen sebagai penyalur rahmat Allah.

Ketiga, Kristus diyakini akan kembali. Pada bagian ini pewartaannya lebih menekankan aspek pengadilan terakhir dengan Tuhan sebagai hakim untuk mengadili orang hidup dan mati. Ia akan datang pada hari terakhir (parousia) dengan membawa keselamatan dan hidup baru. Kini setiap orang harus bersiap-siap dan berjaga-jagalah, sebab Ia akan datang bagaikan pencuri di waktu malam. Keempat, Kristus sebagai Pengampun. Pada bagian ini diwartakan bahwa Kristus tidak menghukum orang yang bersalah tetapi Ia akan mengampuni mereka. Ia selalu memberi kesempatan supaya orang bertobat. Orang berdosa harus minta pengampunan dan absolusi dari para imam serta sejauh mungkin berdamai dengan sesama (rekonsiliasi). Orang yang bersalah terhadap sesama haruslah diampuni, jangan membalas dengan kejahatan.

Kelima, Kristus dihayati dalam sakramen. Pada bagian ini dimaklumkan bahwa Kristus secara istimewa hadir dalam sakramen-sakramen terutama dalam sakramen Ekaristi. Liturgi Gereja dipandang sebagai sarana efektif keselamatan dan pertemuan dengan Tuhan. Orang yang terlibat dalam perayaan liturgis harus bersikap iman yang wajar sebagaimana yang diajarkan oleh Gereja. 

Keenam, Kristus berasal dari luar dunia manusia. Bagian ini ditekankan bahwa Kristus itu orang dari luar dunia manusia. Ia seorang yang luhur dan ilahi, maka Ia tidak sebanding dengan manusia. Ia melampaui segala budaya bangsa (supra cultur) sehingga keterlibatan-Nya dalam budaya akan menguduskannya.

Ketujuh, Kristus dalam kesalehan moral dan spiritual. Pada bagian ini para pewarta menyatakan bahwa Kristus adalah seorang yang saleh dan penuh dengan cinta kasih. Ia selalu berbelas kasih kepada semua orang sehingga rela mati demi menebus dosa manusia. Kaum beriman harus memperjuangkan sikap moral dan spiritual seperti Yesus sebagaimana dihayati oleh biarawan-biarawati. Kedelapan, Kristus dalam Perjanjian Baru (PB). Kristus eskatologis merupakan salah satu poros pewartaan Gereja Perdana dari pelbagai gambaran Kristus. Keanekaragaman wajah Kristus ditampilkan Gereja Purba dalam rangka pewartaan tentang Kristus yang bangkit. Keanekaragaman itu tidak dipertentangkan dan tidak diberikan prioritas tertentu. Gambaran itu antara lain, Kristus ditampilkan sebagai Gembala, Guru, Penyelamat, Pengampun, yang tersalib, yang bangkit, yang nampak diri dan seterusnya.[v] Demikianlah gambaran-gambaran tentang Kristus yang diwartakan Gereja dalam kultur orang Migani. 


Foto Kleopas Sondegau saat berada di Gua Maria Stasi Agapa - Paroki Bilogai Intan Jaya.



CATATAN AKHIR:



[i] Michael Keene, Yesus, Yogyakarta: Kanisius, 2007, hlm. 6.
[ii] Bdk. Leslie Houlden (ed.), Jesus in History, Thought, and Culture, An Encyclopedia, Volume One: A-J, Santa Barbara, California: ABC CLIO, 2003, hlm. 429-430.
[iii] Gerald O’Collins, dkk., Kamus Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 1996, hlm. 356-357.
[iv] Ibid.
[v] Agus A. Alua, Gambaran Makhluk Ideal Dalam Mitos-Mitos Irian Sebelum dan Setelah Bertemu Kristus, hlm. 64-68.

The Best

PENGERTIAN FILSAFAT