Video Of Day

Subscribe Youtube

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Friday, 28 September 2018

REFLEKSI PENGENALAN PERKEMBANGAN DIRI DAN PANGGILAN

Oleh Yeskiel Belau
A.  Pengantar
  Inilah sebuah refleksi yang relevan dengan perkembangan panggilan saya, yang dihantar dengan menelusuri internalisasi kematangan kepribadian, kerohanian, hidup berkomunitas dan pedoman berpastoral berdasarkan pada moto panggilan saya, yaitu; Janganlah kamu takut; sebab Aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu (Mat 28:5).
Foto Yeskiel Belau

   Refleksi ini merupakan refleksi lanjutan dari refleksi-refleksi sebelunya. Maka pada refleksi kali ini juga, saya merefleksikan pengalaman hidup dan pembinaan-pembinaan yang saya jalani. Diantaranya;  Pertama: Pembinaan manusia, sebagai dasar dari segala pembinaan panggilan Imamat. Mengenai bagian ini tentu memuat kematangan pribadi dalam berelasi dengan sesama. Kedua: Pembinaan Rohani; sebagai dasar dalam bersekutuh dengan Allah – mencari Yesus. Ketiga: Pembinaan Intelektual; memahami dan mengalami iman akan Yesus Kristus. Melihat dan menelusuri perjalanan panggilan saya; terpikat – terpaut dan terlibat pada Kristus. Keempat: Pendidikan Pastoral; persekutuaan cinta kasih Yesus Kristus Sang Gembala Baik. Semua aspek ini saya refleksikan secara terstruktur berikut ini.

B.  Pembinaan Manusia
     Pembinaan manusia adalah dasar dari segala pembinaan panggilan Imamat selanjutnya, maka saya sudah menyediakan diri dan terus mengalami pembinaan manusia yang telah dikemas sedemikian rupa sesuai dengan tingkatan pendidikan Imamat yang telah saya lalui. Sehubungan dengan hal ini, pembinaan manusia itu saya alami sejak masa Seminari Menengah, Tahun Orientasi Rohani, Seminari Tinggi (masa S-1), masa TOP dan TOK, serta kini berada di Seminari Tinggi Giovani Malang (masa S-2) ini untuk tujuan yang sama.

    Proses pembinaan manusia di setiap jenjang pendidikan itu telah saya alami melalui latihan rohani, pelajaran harian/kuliah, aktivitas harian, oubound, ansos, praktek karya pastoral di Paroki, berelasi dengan sesama, menerima pembinaan pribadi dengan pembina dan lain sebagainya. Pembinaan manusia lewat berbagai bentuk seperti ini bukan hanya telah melatih fisik saya untuk mampu beradaptasi dengan medan berpastoral, tetapi juga telah mematangkan mentalitas saya untuk mampu menaklukkan penderitaan dan kesulitan di medan pastoral. Berdasar pada pengalaman mengalami pembinaan manusia melalui berbagai bentuk ini, kini saya sungguh merasa bahwa kematangan kepribadian dan kerohanian saya semakin mantap. Hal ini mengandung arti bahwa melalui pembinaan-pembinaan seperti itu, saya mengalami perubahan positif. Perubahan positif pada kepribadian saya maupun pada kerohanian saya. Khusus untuk perubahan pada kepribadian saya dapat dilihat dari sikap saya yang mampu membedakan hal yang baik dan buruk dan selanjutnya memilih yang baik dan melaksanakannya.

   Berkat internaisasi nilai-nilai luhur lewat ragam pembinaan itu, saya merasa sungguh berdamai dengan orang tua dan sesama yang lain. Saya sungguh merasa berdamai, maka perasaan cinta saya kepada orang tua dan sesama yang lain juga tentu telah melekat dalam hatiku ini. Saya mencintai ayah dan ibu serta sesamaku yang lain. Kecintaan saya kepada mereka akan saya buktikan dengan jalani panggilan saya sebagai calon imam Projo dan menjadi Imam Projo.

   Menjadi seorang Imam berarti menjadi alter Kristus “Kristus yang lain” yang mewartakan Cinta Kristus dan cinta manusiawi. Sebagai calon Pastor, saya harus menampilkan alter-Nya dalam perkataan dan perbuatan sambil menjujung tinggi nilai kemanusiaan. Sebab hal ini adalah tugas pokok yang perlu saya kembangkan dalam diri sebagai calon imam.

    Mengenai kekuatan dan ketertarikan cinta manusiawi: Kekuatan dan ketertarikan cinta manusiawi tentu ada dalam diri saya, tetapi saya sudah berusaha sejauh ini dan akan terus berusaha untuk mampu mengendalikannya dengan nilai-nilai rohani seturut Kitab Suci. Dalam Kitab Suci diajarkan bahwa “ada orang tidak menikah demi kerajaan Allah”. Ajaran Kitab Suci ini menjadi kekuatan bagi saya untuk terpaut pada nasehat-Nya. Usaha terus-menerus untuk memeliharanya sedang saya bangun. Katakana saja bahwa membangun tekat yang teguh, supaya benih panggilan saya ini terlindung dari godaan-godaan kemanusiawianku.

   Mengenai hal kebebasan; apa yang mengikat saya, sehingga tidak bebas? Saya merasa bebas berkat seluruh proses pembinaan yang saya dapatkan dan seluruh proses itu semakin membawa saya pada kebebasan batin yang mendalam. Oleh karena kenyataan kebebasan batinku ini, maka dengan bebas dan leluasa pula saya memilih arah hidup sesuai dengan kebebasanku sendiri. Saya memilih arah hidup selibat. Sebab saya merasa bisa bertangung jawab padanya berkat kekuatan kecintaku pada Kristus dan terlebih berkat kehendak-Nya sendiri. Sebab tanpa kehendak-Nya, tidak berdayalah saya.

   Apa yang saya katakan di atas itu mempunyai arti bahwa suka-duka hidup menjalani Panggilan Imamat yang saya hayati ini sungguh tidak berarti, jika saya hanya mengandalkan kemanusiawian saya belaka. Namun menjalani panggilan ini dengan bersandar pada Dia yang memanggil, maka pastilah saya akan kuat dan bisa mengendalikan panggilanku. Untuk tujuan ini, saya pun dibekali dengan berbagai bentuk pembinaan dan kebebasan untuk bergaul dengan siapa saja, baik bergaul dengan sesama jenis maupun lawan jenis, maka sejauh ini saya merasa cukup puas dengan keharmonisan relasi saya dengan sesamaku. Hal ini berarti bahwa saat ini hubungan saya dengan sesama yang lain sangat baik.

C.  Kematangan Pribadi dalam Berelasi dengan Sesama
    Sehubungan dengan hal yang telah saya kemukakan di atas, saya akui bahwa kematangan pribadi dalam berelasi dengan sesama merupakan tujuan program pembinaan Imamat juga. Oleh karena keyakinan ini, maka tentu bahwa pada setiap jenjang pendidikan imamat yang telah saya lalui itu semakin membangun kamatangan pribadi saya dalam berelasi dengan sesama. Demikian juga kini pun saya berada di Seminari ini demi menerima dan mengalami proses pembinaan demi mematangkan kepribadian saya, agar dalam hidup menjalani panggilan ini, saya dapat berelasi dengan sesama secara baik.

   Semua proses pendidikan Imamat yang saya alami seperti yang telah saya singgung di atas itu terbukti telah membantu saya dalam berelasi dengan sesama sejauh ini. Buktinya selain beberapa hal yang telah saya sebutkan di atas, saat ini saya juga merasa hubungan saya harmonis dengan orang tua, saudara/i kandung saya, teman-teman, guru, pembimbing dan Uskup. Kenyataan keharmonisan relasi saya dengan mereka seperti ini lahir dari usaha saya internalisasikan nilai-nilai luhur yang saya terima lewat proses pendidikan Imamat dengan berusaha menjaga relasi yang baik. Sebab ada kesadaran dalam diri saya bahwa kehadiran, keindahan dan keberhasilan saya sungguh menjadi nyata atas dukungan mereka sepenuhnya. Maka tidak ada hal lain yang dapat saya perbuat bagi mereka selain bersyukur dan berterimakasih kepada mereka dengan menjaga hubungan yang baik ini. Apalagi saya adalah calon Imam, yang amat perlu membangun relasi yang harmonis dengan semua orang sebagai suatu kewajiban. Sehingga dengan sikap lepas bebas pula saya mewartakan Inji Kristus di mana pun saya ditugaskan nanti.

   Sejalan dengan semua yang telah saya utarakan di atas, sebagai dasar dari pelayanan, banyak pembelajaran menuju Imamat sudah saya alami dan sedang pelajari, walau kedepannya masih membutuhkan kesadaran dan usaha yang cukup untuk internaisasi. Juga saya memiliki kemauan yang cukup demi menanggung beban hidup Imamat yang telah saya pilih. Kemauan saya ini semakin saya ungkapkan dengan membangun hubungan intim dengan Tuhan sebagai modal dan kekuatan saya dalam mempertahankan panggilan. Hal yang kedua ialah menumbuhkan sikap yang pro pada kebenaran dan menonjolkan sikap hormat serta belah rasa pada setiap insan.

   Kemudian mengenai kebenaran obyektif itu amat perlu saya perjuangkan juga, walau saya tahu bahwa upaya itu mempunyai begitu banyak rintangan. Tekad saya ini lahir dari alasan bahwa saya dipanggil untuk memihak dan memperjuangkannya. Memang bagi saya, memperjuangkan kebenaran itu utama. Soal tanggapan orang terima atau sebaliknya, itu bukan ukuran, karenan saya juga ketahui bahwa setiap insan mempunyai kebebasan untuk memilih dan mengungkapkan pendapatnya. Oleh karena hal ini, maka saya semakin mengembangkan pilihan saya tadi dengan jalan bersikap loyal, solider, seimbang dalam  penilaian perilaku. Untuk itu saya akan belajar lebih, supaya melihat masalah dengan baik, berpikir dengan baik dan bertindak secara bijak. Inilah metode yang akan saya jadikan sebagai dasar dan pegangan saya kedepan.

D.   Dalam Persekutuan dengan Allah – Mencari Yesus
    Jikaau ditanya, apakah anda mau membangun kesatuan hidup yang mendalam dengan Kristus berdasarkan permandian dan yang selalu disegarkan lewat Ekaristi? Jawabku; Ya saya mau membangun sikap yang mendalam dengan Kristus. Kemauan saya ini berdasar pada kesadaran saya akan kenyataan Kristus yang memanggilku. Menjadi calon Imam berarti menjadi murid-Nya tanpa paksaan. Oleh karena hal ini, maka tanpa paksaan pula saya pun sudah semakin siap membangun hubungan yang harmonis antara saya dengan Kristus, walau saya adalah insan yang rapuh. Namun ada juga keyakinan bahwa saya yang rapuh ini justru telah dipanggil oleh-Nya, maka pasti Ia akan mendekati saya dan menjadi sahabat saya.

    Sejalan dengan penjelasan itu, sebagai ungkapan cinta saya kepada Kristus, saya sudah membangun dasar hidup Doa dan akan terus membangunnya. Doa-doa yang telah dibangun dan akan terus dibangun adalah doa meditasi, kontemplasi, examen concenciae dan devosi kepada  Bunda Maria serta doa-doa lain sebagainya sebagaimana yang telah saya latihan pada masa Tahun Orientasi Rohani. Dan, kini semua ini telah menjadi milik saya. Oleh karena kenyataan ini, maka kini saya mau bertekun untuk mencari Yesus lewat kontemplasi dan keteribatan aktif dalam misteri kudus Gereja dan melaksanakan cinta kasih kepada orang kecil, lemah dan miskin.
   
   Tugas mulia itu tentu bisa saya laksanakan dengan menimbah kekuatan Tuhan melalui doa-doa seperti yang telah saya sebutkan tadi. Maka kini dan selanjutnya tidak ada pilihan yang lain lagi, selain memilih hayati hidup doa dengan melaksanakan doa meditasi dan merenungkan sabda Tuhan, baik dalam hidup sehari-hari maupun doa-doa pribadi, seraya menerima keheningan sebagai suasana rohani dasariah untuk menyadari kehadiran Allah dan sebagai ciri dari “Man of God” yang ingin membantu umat sampai pada Bapa. Untuk mencapai tujuan ini, kebebasan batin yang telah saya capai mesti dikembangkan terus, supaya tidak menyatu dengan segala keterikatan duniawi semata. Semua upaya ini semakin saya perkaya diri sambil menyadari diri sebagai anak Allah, dengan mengusahakan hidup, menghargai dan mencintai-Nya, serta berusaha menghayati hidup selibat sebagai tujuan yang harus dicapai sebagai anak Allah. Demikianlah penjelasan mengenai usaha saya memilih hidup sebagai anggota selibat.

E.  Memahami dan Mengalami Iman Akan Yesus Kristus
    Memahami dan mengalami iman akan Kristus dalam setiap langkah hidup adalah usahaku hingga kini. Saya melihat, ternyata seluruh pengalaman hidupku menunjukkan karya Allah yang besar, terutama memantapkan saya menuju pada kehendak-Nya yang saya perjuangkan ini. Maka selanjutnya dari pihak saya perlu mengembangkan sikap rendah hati dan refleksi yang mendalam, supaya melihat kehendak-Nya bagiku demi kemuliaan nama-Nya.

    Demikian juga kebijaksanaan saya dalam mengambil keputusan  terhadap diri, pilihan dan sesama itu tentu hal yang prioritas. Demi mencapai prioritas ini, daya penalaran yang sehat dan pengetahuan iman yang telah saya raih dalam seluruh proses pendidikan Imamat, perlu saya kuatkan dan tumbuhkannya. Sejalan dengan hal ini, perlu juga memiliki kemauan menafsirkan pengalaman hidup secara benar dan memiliki kemampuan budi dan kebebasan batin yang mendalam, agar selanjutnya mencapai iman akan Kristus dan kebenaran objektif.

    Perjuangan meraih iman yang kuat semakin dan akan saya upayakan terus-menerus. Perjuangan ini telah dan akan saya usahakan melalui kebijaksanaan berdialog secara kritis di berbagai arus zaman dan IPTEK. Sebab kehidupan era yang akan datang cukup menantang. Berkaitan dengan hal ini, diisukan bahwa kedepannya akan muncul ragam masalah aktual yang tidak bisa saya tolak. Oleh karenanya, maka saya sebagai orang terpanggil mesti siap untuk menghadapinya dengan kemampuan yang cukup, sehingga pada saatnya saya bisa memihak kebenaran sambil menerima Injil Yesus Kristus dengan Iman yang tangguh. Sehinggah Tuhan hadir menyelamatkan banyak orang lewat saya serta saya sendiri pun selain menjadi pribadi yang bijak, juga menjadi pribadi yang memiliki kemampuan memilah-milah untuk mengadakan penegasan menurut kehendak Tuhan dalam menghadapi pluralisme dalam masyarakat serta tangguh dalam mengahadapi segala problem yang mendatangi Gereja.

F.   Perjalanan Panggilanku: Terpikat – Terpaut – Terlibat Pada Yesus Kristus.
    Sejarah hidup saya membuktikan bahwa perasaan tertarik untuk menjadi seorang Imam Diosesan ini lahir sejak Sekolah Dasar. Merasakan ketertarikan ini melalui para Imam Diosesan di Paroki asal saya (Paroki Bilogai). Selanjutnya berkat pembatinan ajaran-ajaran Gereja yang diwartakan oleh mereka, saya menyadari bahwa Kristus itu sungguh menyerahkan diri sehabis-habisnya untuk manusia sebagai silih atas dosa-dosa, terutama silih atas dosa-dosa saya. Oleh sebab kesadaran ini terlintas di hati saya, maka dalam diri saya juga muncul perasaan haruh yang amat mendalam dalam diriku. Dengan proses ini, maka tumbuhlah perasaan “Cinta” pada Yesus.

   Sehubungan dengan perasaan saya itu, kesediaan saya tetap bertahan pada jalan panggilanku ini merupakan pilihan saya untuk membuktikan kecintaan saya pada Yesus yang telah menebusku itu. Benar, saya ingin buktikan hal ini dengan menjalani panggilan-Nya, sebagai seorang calon dan kemudian menjadi Imam-Nya. Upaya membuktikan kecintaanku pada Kristus ini tentu akan membawa saya pada makna panggilan itu sendiri, yaitu; rahmat teristimmewa. Penjelasan ini mengungkapkan tanggapan saya tentang makna panggilan mengikuti Kristus, yakni; rahmat teristimewa yang mesti saya syukuri dan terus taat pada rahmat itu sendiri.

   Upaya mensyukuri rahmat itu semakin dan akan saya ungkapkan dengan jalan menjawab panggilan-Nya terus-menerus. Sehingga rahmat itu tidak berlalu dari padaku. Rahmat yang saya maksudkan adalah rahmat menjadi murid yang menaruh cinta pada-Nya. Sebab dalam panggilan yang sudah saya tekuni dan akan tekuni ini, saya menemukan rahmat cinta. “Saya mengikuti Dia karena cinta dan Dia pasti mencintai saya”. Hal ini tidak perlu diragukan lagi, karena sudah banyak pengalaman cinta Tuhan dalam sejarah hidup saya yang sudah saya rasakan. Memang saya akui bahwa dalam sejarah hidup saya, Ia telah memperlihatkan kecintaan-Nya kepadaku. Oleh karenanya, maka tantangan hidup yang begitu berat, selalu menjadi ringan. Saat ini pun saya merasa dilindungi-Nya dan karenanya maka bergembira.

    Menyangkut krisis panggilan. Sejauh ini saya belum merasakan krisis menjalani panggilan, tetapi ada saatnya di mana saya pun bisa mengalami kehampaan panggilan. Oleh karena kemungkinan ini, maka saya mau menjadikan Tuhan Yesus Kristus sebagai penolong setiaku. Memang tidak ada jalan lain untuk bertahan dalam penderitaan memikul salib selain berdoa kepada Dia. Sebab doa adalah dasar hidup Imamat yang sudah dan akan saya hidupi. Hal ini mengungkapkan kerinduan saya menjadi Imam pendoa. Sehiggah disposisi batin saya dalam menjalani panggilan pun tetap semangat dan gembira seperti yang sudah saya rasakan dalam proses pembinaan di masa yang telah berlalu dan saat ini.


G.  Pendidikan Pastoral: Persekutuan Cinta kasih Yesus Kristus Sang Gembala Baik
   Semua pendampingan yang telah saya peroleh itu mengarah pada persiapan untuk berpastoral, maka itu telah membantu saya dalam berpastoral selama dua tahun di Paroki dan kini saya akan menerima persiapan selanjutnya demi tujuan yang sama. Sehingga pada akhirnya saya menjadi Imam yang tangguh dalam berpastoral dengan keyakinan bahwa panggilan Tuhan yang saya hayati menjadi rahmat untuk berpastoral yang harmonis. Hal ini akan saya ungkapkan dengan kesediaan saya menghabiskan waktu-waktu yang ada untuk melayani umat Tuhan yang dipercayakan kepada saya sebagai orang Gerej.

   Selanjutnya saya juga menyadari bahwa menjadi Imam itu bukan untuk melayani diriku sendiri, melainkan melayani umat Tuhan. Pengetahuan kesadaran saya ini tentu membantu saya untuk memulai berpastoral. Mengenai hal ini dapat saya katakan bahwa celakalah saya jika saya mengutamakan dan melayani diriku sendiri. Hal ini mengandung arti bahwa saya mengerti jikalau saya menjadi imam itu demi melayani umat Tuhan. Melayani umat Tuhan bukan stengah-stengah, tetapi secara total. Oleh karena hal ini merupakan suatu keharusan, maka amat penting adanya kesediaan memberikan diri, bakat-bakat, minat dan segala kemampuan saya bagi perkembangan Gereja.

   Berdasarkan semua penjelasan di atas, akhirnya saya menyadari bahwa perkembangan Gereja Kristus akan berjalan baik, jikalau dalam karya pastoral terdapat kerja sama yang baik antara rekan-rekan sepanggilan, awam dan umat. Maka saya akan menggunakan kemampuan yang ada pada saya ini untuk melatih diri, membangun hubungan harmonis antara sesama mulai dari Seminari ini. Melatih diri dengan membangun kekerabatan antar sesama anggota komunitas, supaya saya bisa mengenal mereka secara pribadi, karakter dan budaya mereka dengan baik sehingga pengalaman ini membantu saya membangun hubungan yang baik antara Bapa Uskup dan wakil-wakilnya serta membantu dalam karya pastoral nanti.

   Selain berbagai hal yang telah saya utarakan itu, saya juga menyatakan kesediaan saya untuk menghadapi tantangan Gereja melalui refleksi yang matang dan penerapan praktis dalam menjalani tugas. Juga saya pun siap berkembang dalam persekutuan cinta kasih pastoral Yesus, bersedia menanamkan nilai-nilai pastoral, yakni; perasaan halus seorang gembala, rendah hati, jujur, tanggungjawab, mau dievaluasi serta belajar terus-menerus. 

H.   Kesimpulan
    Refleksi di akhir masa TOP dan TOK serta awal masa study program Pasca Sarjana di Seminari Tinggi Intediosesan Giovani Malang ini merupakan cerminan untuk melihat perkembangan kepribadian dari berbagai sudut. Dalam refleksi ini telah dilihat sudut kematangan panggilan, kerohanian, kepribadiaan, berkomunitas dan kerasulan. Hal ini berarti bahwa dalam refleksi ini telah saya juga beberkan usaha-usaha jatuh-bangunnya membangun dasar hidup dan juga memuat niat-niat yang menyegarkan panggilan saya.

    Program pembinaan yang telah saya alami; Pertama: Pembinaan manusia, sebagai dasar pembinaan panggilan Imamat, yang di dalamnya memuat kematangan pribadi dalam berelasi dengan sesama. Kedua: Pembinaan Rohani; sebagai dasar dalam bersekutuh dengan Allah – mencari Yesus. Ketiga: Pembinaan Intelektual; memahami dan mengalami iman akan Yesus Kristus. Melihat dan menelusuri perjalanan panggilan saya; terpikat – terpaut dan terlibat pada Kristus. Keempat: Pendidikan Pastoral; persekutuaan cinta kasih Yesus Kristus Sang Gembala Baik. Program pembinaan-pembinaan inilah yang telah membaharui hidup, cara pandang dan cara bertindak saya. Semoga selanjutnya semakin disempurnakan dengan seluruh proses pendidikan di tempat ini.

KONFLIK ANTARA MARGA SELEGANI DAN SANI DI KABUPATEN INTAN JAYA

Oleh Yeskiel Belau

Foto Penulis, Yeskiel Belau
Sugapa – Kabupaten Intan Jaya 17/09/218, baru saja dikabarkan bahwa di sana sedang terjadi konflik antar marga. Konflik itu berlangsung antara marga Selegani dan marga Sani. Marga Selegani bertempat tinggal di Desa Puyagia, Distrik Sugapa. Sedangkan marga Sani berdomisili di Desa Mamba. Dalam perang, kedua marga ini dibantu oleh semua marga yang ada di Desa masing-masing. Peralatan yang mereka gunakan dalam konflik itu busur dan anak-panah. “Kami saling memanah dengan menggunakan busur dan anak-panah dari jarak dekat sekitar 15-20 meter” kata Dominikus Belau kepala perang dari pihak marga Selegani, melalui Telephone Seluler Senin, 17 September 2018.

Perang antar marga itu terjadi akibat meninggalnya seorang istri dari Bapak Saul Selegani. Istri Saul yang meninggal karena “sakit” itu bernama Elisabeth Sani. Maka, “ketika pihak keluarga Sani mendengar berita duka anak mereka, lantas mereka mendatangi pihak suami dan melakukan aksi keributan, hingga berujung pada perang ini” sahut tokoh masyarakat bapak Agus Belau lewat alat komunikasi yang sama.

Alasan pihak keluarga perempuan mendatangi pihak laki-laki dan melakukan aksi keributan itu dijelaskan oleh Dominikus bahwa; Pertama, pihak laki-laki belum bayar belis (maskawin) dalam bentuk uang, babi dan kulit biya, sebagaimana biasanya dalam tradisi Suku Bangsa Migani. Kedua, saat ibu Elisabeth sakit, suaminya (Saul Selegani) pernah mengujungi istrinya yang sedang sakit di rumah keluarga di Mamba dan sesudah beberapa hari kemudian, anak mereka langsung meninggal dunia pada Hari Rabu, 12 September 2018.

Menanggapi alasan pihak marga Sani itu, pihak marga Selegani pun mengatakan bahwa ibu Elisabet Sani dinikahi dengan cara tukar perempuan. Perempuan yang ditukar dengan ibu ini adalah Horolia Selegani, adik kandung dari Saul Selegani sendiri. Oleh kanena dia dinikahi dengan cara seperti ini, maka masalah ini harus kita selesaikan dengan damai. Kami akan bayar dalam waktu yang dekat ini. Namun pihak marga Sani sangat merasa kesal dengan peristiwa itu, seperti ada sesuatu yang sangat sulit diterima. Maka mereka menyatakan niat untuk tetap berperang.

Didorong oleh kekesalan dan kedua alasan di atas itu, “pihak marga Sani pun langsung mendatangi pihak marga Selegani, selama dua hari berturut-turut; pada Hari Kamis, 13 September – Jumat 14 September 2018. Kemudian mereka mulai melakukan aksi perang dengan memanah seorang pemuda dari pihak laki-laki di Kununggaupa Desa Puyagia. Sesudah memanah, mereka lari menuju Bogage sebagai wilayah benteng pertahanan mereka. Sementara itu, pihak laki-laki yang diserang ini pun tidak mau diperlakukan demikian. Mereka juga balik mengejar para penyerang dan membalasnya dengan memanah seorang pemuda dari pihak marga Sani. Dengan ini, maka selanjutnya perang semakin memanas dan mulai saling menyerang sepanjang hari selama dua hari itu. Pada hari Sabtu dan Minggu, kami tinggal berjaga-jaga saja, tetapi pada hari Senin ini perang sedang dilanjutkan hingga sore ini”, Dominikus Belau menambahkan penjelasannya.

Dalam perang itu, dikabarkan bahwa beberapa orang dari kedua kubuh telah terluka parah termasuk sumber informasi ini yaitu; Dominikus Belau. Ia memberi rincian bahwa pihaknya enam orang terluka parah termasuk dirinya. Demikian juga pihak marga Sani, “tetapi untuk pihak lawan ini, belum bisa saya sebutkan nama-nama mereka, karena belum ketahui secara pasti. Namun baru saja saya terima informasi dari Agen Pesawat, Thomas Belau bahwa ia telah mengirim dua orang dari pihak marga Sani yang terluka parah ke Rumah Sakit Umum Nabire tadi siang” katanya. “Kalau nama-nama korban di pihak kami yang saya ingat itu, saya sendiri Dominikus Belau, Norbertus Belau, Maret Nayagau, Martinus Ulau, Onius Selegani dan satu orang lain lagi yang namanya belum saya ingat saat ini” lanjut dia.

Dari sekian korban pihak marga Selegani itu dikatakan Martinus Ulau yang sedang berada dalam keadaan kritis. Sehingga dikabarkan ia telah dikirim ke Rumah Sakit Umum Kabupaten Nabire juga, supaya ia pun mendapatkan perawatan intensif. Sementara korban lain masih berada di Kabupaten Intan Jaya dan sedang mendapat perawatan seadanya dari Puskesmas setempat (Distri Sugapa – Kabupaten Intan jaya).

Selanjutnya, kami berniat menanyakan informasi lebih lanjut di seputar perang itu, tetapi gagal. Karena  jaringan Telkomsel di Kabupaten Intan Jaya terputus (Of)  sampai saat ini. Semoga kedepannya jaringan kembali membaik, supaya kami melanjutkan proses menggali informasi lebih lanjut tentangnya dengan komunikasi lewat Telephone Seluler dan selanjutnya melengkapi informasi yang ada ini.

Kebiasaan saling membunuh dengan berperang itu secara moral tidak benar, apa pun alasannya. Maka kami sebagai anak mereka yang peduli akan keharmonisan hidup antar semua marga dalam Suku Bangsa Migani, sangat berharap agar kedua belah pihak yang saling bertikai, yaitu; Masyarakat Desa Puyagia dan masyarakat Desa Mamba itu, segera akhiri perak itu dalam waktu yang dekat ini. Karena kami melihat bahwa kenyataan hidup mereka sudah sangat susah dalam segala aspek. Dan, tentunya perang tersebut telah menambah kesusahan baru lagi. Selanjutnya jika perang itu berlanjut terus, maka kesulitan hidup pun tentu akan meningkat. Oleh karena dugaan ini, maka disarankan agar kedua kubu yang bertikai merendahkan hati dengan mendengarkan; Pihak Gereja dan pihak keamanan lokal yang berusahan menghentikannya dan sungguh-sungguh akhiri perang. Kemudian selanjutnya kedua belah pihak selesaikan masalah itu dengan kepala dingin demi kebaikan bersama.

Friday, 24 August 2018

MERAYAKAN PASKAH BERNUANSA BUDAYA DI PAROKI ST. FRANSISKUS OBANO



Oleh Yeskiel Belau
Foto Umat Paroki St. Fransiskus Obano.
Dokumen Yeskiel Belau
“Kita Berdamai Dengan Tuhan Dan Segala Ciptaan-Nya”. Demikian tema sentral Perayaan Paskah Tahun 2016 ini bagi kami umat Paroki St. Fransiskus Obano. Tema ini lahir dari diskusi mendalam bersama tua-tua adat setempat dan para pewarta serta petugas Pastoral yang ada. Sejalan dengan tema utama, peserta diskusi juga memilih sub tema “Kurban Dan Kebangkitan Kristus Menjadi Kekuatan Kita Untuk Bersatu”.

Kedua tema itu sangat sesuai dengan konteks kami saat ini di Paroki St. Fransiskus Obano. Sebab konteks kami saat ini adalah sedang mempersiapkan upacara Rekonsiliasi Kampung, yang biasa kami sebut dengan nama Witogai Kamuu. Upacara yang sedang kami siapkan ini mempunyai tujuan yang sesungguhnya sudah terungkap dalam tema tersebut. Memang kami sedang mengusahakannya supaya selanjutnya kami berdamai dengan Tuhan dan segala Ciptaan-Nya. Sehingga pada akhirnya persekutuan kami dengan sesama, leluhur, alam dan Tuhan terpancar dari kampung kami sendiri.
Foto umat beserta ragam bibit tanaman
 pada Miggu Malma.
Dokumen Yeskiel belau

Dalam konteks itu, seperti biasa Pekan Suci diawali dengan Minggu Palma. Perayaan Minggu Palma ini kami rayakan sebagai Minggu bibit-bibit. Minggu bibit-bibit yang jatuh tanggal 20 Maret ini, kami lakoni dengan tema khusus “Mee Umina Gaipeu Maida Make Ekowai” (bekerja untuk menghidupi banyak orang). Perayaan yang diawali dari depan Emawaa Maipai Wiyai ini, betul-betul diramaikan dengan bibit-bibit tanaman.

Dalam perayaan itu, Pastor Maipai Pr. mengajak umat untuk menyadari diri sebagai petani yang termulia di hadapan Allah. Sebab dengan kariernya, para petani turut ambil bagian dalam karya penciptaan Allah (Ugatamee). Juga bersyukur kepada Ugatamee, dengan mengangkat apa yang senantiasa menghidupkan kami (bibit-bibit) atas kebaikan dan kesediaan-Nya masuk ke dalam hidup dan hati para petani sebagai Raja. Bibit-bibit tanaman yang dikumpulkan itu juga merupakan lambang persembahan keutuhan diri para petani bagi Sang Raja, yang memasuki Yerusalem hidup dan hati para petani termulia.

Bibit-bibit tanaman lambang diri para petani, yang juga diangkat untuk menghormati Sang Raja Damai itu terdiri dari bibit petatas (nota), keladi (nomo), tebu (eto), bibit pisang, jagung, sayur lilin dan sayur-sayur lain sebagainya. Katakan saja bahwa para petani sudah menyiapkan semua jenis bibit yang ada di rumah dan kebun mereka. Maka Pastor Paroki memohon Ugatamee memberkatinya dengan berdoa, memberi berkat serta mendupai.

Sesudah upacara pembukaan Minggu bibit di Emawaa Maipai, umat yang dijuluki para petani termulian itu bersama pemimpin perayaan berarak memasuki gedung Gereja. Sementara itu, para petani termulia yang lain mengiringinya dengan tari-tarian khas budaya suku bangsa Mee. Dalam proses ini, para petugas lain membentangkan dedaunan hijau di jalan yang akan dilalui, hingga di dalam Gereja. Di dalam Gereja, mereka mengalasi jalan menuju panti Imam dan menghiasi sekitar altar dengan dedaunan bibit-bibit tadi. Kemudian perayaan dilanjutkan dengan Liturgi Sabda dan Ekaristi Kudus. Perayaan ini ditutup dengan berkat meriah oleh Pastor Paroki dan nyanyian yang berciri khas suku bangsa Mee.

Perayaan Kamis Putih, kami rayakan dengan bakar batu seekor babi seharga Tujuh Juta Rupiah. Acara barapen ini dipimpin oleh Petrus Pigai dan selesai tepat pukul 06.00 Waktu Obano. Dengan selesainya acara ini, maka selanjutnya semua umat yang terkumpul siapkan diri untuk mengikuti perayaan Kamis Putih di Aula Paroki yang sudah disiapkan oleh Ibu Ance Pigai. Perayaan Kamis Putih dimulai jam 07.00 dan berakhir jam 11.30. Memang proses perayan ini cukup panjang, tetapi bagi kami yang turut merayakannya terasa begitu cepat. Sebab bagian-bagian liturgi yang kami lalui bernuansa budaya kami sendiri.

Foto Proses Perayaan Tobat.
Dokumen Yeskiel Belau.
Liturgi bagian awal: Sesudah kata pengantar Pastor mengajak umat untuk mengikuti upacara pembasuhan kaki. Dalam upacara ini, setiap marga membawa air milik mereka sendiri (air warisan nenek moyangnya) di kampung masing-masing, yang sudah terisi di dalam tempayan asli hasil pertanian mereka. Air ini dibawa ke depan altar oleh perwakilan umat dari masing-masing marga. Kemudian Pastor memberkati air itu dan membasuh kaki mereka dengan airnya sendiri. Sesudah itu, mereka yang sudah mengalami pembasuhan kaki, kembali ke tengah-tengah sesama marganya dan membasuh kaki semua anggota marganya tanpa terkecuali. Demikian juga saya dengan Bapa Pastor, kami saling membasuh kaki dengan air yang kami siapkan sendiri dalam tempayan asli yang bulat (air ini kami bawa sendiri dari Pastoran).

Sesudah pembasuhan kaki, berikutnya kami lanjutkan dengan upacara pertobatan. Upacara pertobatan berlangsung seperti ini: Air milik setiap marga tadi disumbang seukuran tiga gelas, kemudian ditampung dalam sebuah baskom sedang yang berwarna putih dan di siapkan di depan altar. Tahap kedua, gusung seekor ayam kampung yang berbuluh warna puti ke hadapan Pastor. Tahap ketiga, ayam itu dan bahan pembuat api tradisional (mamo) diberkati oleh Pastor dengan doa singkat. Tahap keempat, ayam itu dikorbankan dan darahnya dicampurkan dengan sumbangan air tadi. Sementara proses ini berlangsung, petugas sudah memasang api dengan mamo tadi di depan altar. Sesudah semua materi tersedia, maka tahap kelima umat berarak maju ke depan dengan membawa sebuah kertas, yang bertuliskan susunan dosa-dosa. Sesudah berhadapan dengan air dan darah ayam yang digabungkan itu, mereka mencelupkan kertas tadi ke dalam dan membakarnya di api yang tersedia di situ. Umat yang sudah melalui proses ini kembali ke tempat semula dan minum air milik mereka yang sudah diberkati tadi. Tahap keenam, Pastor membuat tanda salib di dahi umat dengan air dan darah yang dipaduhkan itu, dengan kata-kata absolusi. Tahap terakhir, Pastor memberi absolusi secara umum.

Sesudah upacara pertobatan, kami melanjutkan dengan proses pembaruan janji baptis. Dalam proses ini, Pastor berdialog dengan kami (umat) dan sejanjutnya perciki umat dengan air berkat. Kemudian Liturgi Sabda, Ekaristi dan Ritus penutup berlangsung seperti biasa, tetapi bagian paling terakhir kami mengadakan upacara penghormatan Tubuh Kristus (Tuguran). Prosesi upacara tuguran dimulai dari tempat perayaan (Aula) menuju Tabernakel yang sudah disiapkan di dalam Gereja. Di depan Sakramen Mahakudus ini, setiap marga datang berdoa secara bergilir sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan para pewarta.

Dengan selesainya seluruh Liturgi Perayaan Kamis Putih itu, maka sebelum kembali ke rumah kami masing-masing, kami menikmati perjamuan malam bersama. Perjamuan yang kami nikmati ini adalah makanan hasil barapen tadi, yang terdiri dari daging babi, keladi, petatas, dan sayuran. Jenis-jenis makanan inilah yang pernah kami santap bersama, sama seperti perjamuan Paskah Yesus bersama murid-murid-Nya di Malam Terakhir itu.

Keesokan harinya Perayaan Jumat Agung dilangsungkan. Prosesi perayaan ini dipandu oleh Orang Muda Katolik (OMK) setempat, dengan Jalan Salib Hidup. OMK Paroki yang sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari bersama Frater Yesi ini, berarak ke arena titik star Jalan Salib, sesudah make up dan kenakan busana khas tempur.

Dengan melihat kesiapan para pemeran drama Kisah Sengsara Yesus itu, panitiaa dan para pewarta dibawah pimpinan Pastor Paroki pun segera mengarahkan seluruh umat ke titik star Jalan Salib yang sama. Dan, tepat pukul 02.15 Waktu Obano, para pemeran Jalan Salib maupun umat yang akan memaknai peristiwa itu telah siap di tempat. Oleh karena itu, kami langsung memulainya dari perbatasan Desa Bado dengan Tipakotu.

Jalan Salib titik awal pada Jumat Agung.
Foto Theodorus Pigai.
Drama Jalan Salib dimulai dengan adegan pertama. Pada adegan ini, Yesus yang diperankan oleh Theodorus Pigai yang juga memiliki rambut, kumis dan wajah yang mirip dengan Yesus serta murid-muridnya yang berbusana jubah putih itu sudah mulai berdialog. Sementara itu Yance Keiya yang berperan sebagai Yudas itu menghindar Yesus dan teman-temannya, menuju ke arah Imam besar serta berdialog untuk menjual gurunya.

Foto Pemeran Imam Besar
dan para prajuritnya. Theo Foto.
Sesudah mendapat sejumlah uang dari Imam besar, Yudas pun datang bersama dengan para pasukan menghampiri Yesus dengan murid-muridnya untuk menangkap Yesus.  Setelah Yesus ditangkap, para pasukan prajurit membawa Yesus ke hadapan Makamah Agama dan usai menginterogasinya, ia di kirim lagi ke Pilatus. Selanjutnya Pilatus yang diperankan oleh Stevanus Pigai mengadili Yesus dan akhirnya ia menjatuhkan hukuman mati terhadap Yesus, atas desakan warganya yang semakin riuh dengan teriakan “salibkan dia, salibkan dia dan salibkan dia”. Saat itu, mereka yang berperan sebagai rakyat berteriak serentak dengan bahasa daerah setempat. Mereka berteriak “Wagii…Wagii…Wagii…”.

Foto pemeran Yesus dihadapkan
pada pemeran Pilatus. Theo Foto.
Keputusan Pilatus itu diterima baik oleh para pasukan prajurit dan mereka mulai melancarkan penyiksaan yang kejih terhadap Yesus, seperti jalan salib sungguhan. Penyiksaan terhadap Yesus terus dilancarkan dengan mengikuti seluruh perhentian yang sudah disiapkan di samping kiri dan kanan jalan raya. Sementara itu seluruh umat yang sudah berbusana budaya maupun berbusana modern mengikuti dalan salib hidup ini dengan amat teratur dari belakang. Demikian juga para sutradara (kameramen) dibawah pimpinan Bapak Anton Pigai yang ditugaskan oleh sekertaris dewan Paroki, Vitalis Pigai pun menyibukkan diri dengan pengambilan gambar dari seluruh arah.

Foto pemeran Yesus disalibkan.
Foto Theodorus P.
Proses jalan salib terus dilanjutkan hingga sampai di bukit Obay yang menjadi tempat penyaliban Yesus dengan dua penjahat lain yang diperankan oleh Davit dan Marthen Pigai. Proses penyaliban dilakukan tepat pukul 02.50 sore. Dalam keadaan tergantung di kayu salib, Yesus dengan kedua penjahat itu berdialog sesuai dengan peran mereka sendiri-sendiri. Sementara itu, para prajurit pun mengolok-olok Yesus sesuai dengan apa yang tertulis dalam Kitab Suci. Proses ini kelihatannya agak lama dan waktu tinggal lima detik jam 3, maka saya lantas memberi kode kepada tokoh Yesus supaya ia segera menyerahkan nyawanya kepada Bapanya. Memberian kode ini ditanggapi dengan cerdik oleh tokoh Yesus, kemudian ia berkata: “Ya Bapa, Kedalam Tangan-Mu Kuserahkan Nyawaku”. Sesudah berkata demikian, ia menundukkan kepala dan wafat  di kayu salib tepat jam 3 sore.

Foto pemeran Maria dan sahabat-sahabatnya
yang meratapi Jenazah Yesus.
Foto Anton Pigai.
Dengan melihat Yesus sudah wafat di salib, maka bapak Millem Boma dengan pewarta Kombas Idetaka yang berbusana koteka itu mengalaskan mazmur ratapan, yang bercirikhaskan budaya Mee (Uga). Usai mazmur ratapan ini, mereka mengurbankan seekor bebek sumbangan bapak Nikho Pigai di depan, lalu darahnya ditumpahkan di bawah setiap salib yang sudah didirikan mulai dari salib Yesus. Proses ini berakhir, maka para prajurit menurunkan jenazah-jenazah itu dari salib dan jenazah Yesus diletakkan di pangkuan Maria. Sementara itu, kelompok mama-mama pun mendekati Maria dan bersamanya meratapi jenazah Yesus sama seperti kebiasaan ratap mereka saat orang meninggal. Mama-mama selagi ratapan, umat yang hadir pun turut menundukkan kepala dan merenungkan semua itu. Proses ratapan ini berlangsung selama 10 menit dan berakhir. Tidak lama kemudian, bapak Nikho Pigai tampil membawakan Madah Pujian Salib, dengan gaya khasnya yang amat puitis serta memukau hati para umat, lalu mengakhirinya dengan kata amin. Dengan berakhirnya pujian ini, maka berakhirlah juga seluruh proses Jalan Salib hidup itu.

Foto umat saat memberikan
penghormatan kepada Salib Yesus.
Fofo Yeskiel Belau.
Ritus selanjutnya kami mengikuti perarakan Salib dan menghormatinya dengan cara mencium Salib Kristus. Upacara perarakan dan penghormatan Salib Kristus ini terjadi di tempat yang sama, yaitu; tempat penyalibab tokoh Yesus tadi. Di sini semua umat maju dan menghormati Salib sambil membawa amplop APP dan mengisinya di dalam noken yang sudah disiapkan. Proses ini berlangsung di alam terbuka dengan amat lancar, lagi pula cuaca saat itu cukup mendukung (cerah). Proses ini pun berlalu dengan saksama, maka berikutnya kami bangkit berdiri dan mendoakan “Doa Bapa Kami” dan teruskan dengan sambut Komuni Kudus serta menerima berkat penutup dari Pastor Paroki, Pastor Sebastianus Pr. Akhirnya keseluruhan Perayaan Jumat Agung ini ditutup dengan lagu penutup oleh umat dari Stasi Waipa.

Perayaan Malam Paskah dan Hari Raya Paskah pun kami rayakan dengan penuh suka cita dalam nuansa budaya kami. Penjelasan mengenai kedua perayaan ini bersambung! Semoga Kurban dan Kebangkitan Kristus Menjadi Kekuatan Kita Untuk Bersatu padu dalam “Kasih Bapa, Putera dan Roh Kudus”. Amin.

The Best

PENGERTIAN FILSAFAT