Video Of Day

Subscribe Youtube

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Friday, 27 April 2018

TOKOH PEAGABEGA SEBAGAI SARANA DALAM PEWARTAAN KRISTUS DI WILAYAH SUKU MIGANI


Oleh
Kleopas Sondegau MIGANIJU
(Mahasiswa Magister  Ilmu Teologi Pasca-Sarjana, Universitas Katolik Parahyangan Bandung).



Foto Kleopas Sondegau Dokumen Pribadi.
Perjumpaan Gereja dengan kultur orang Migani membantu masyarakat setempat menggali kembali nilai-nilai positif yang terdapat dalam kebudayaan mereka. Nilai-nilai positif yang digali oleh umat setempat antara lain adanya kepercayaan terhadap Wujud/Daya Tertinggi yakni EMO sebagai sang pencipta alam semesta, penghayatan terhadap nilai-nilai adat yang positif sebagai standar etika, moral, dan sosial serta adanya penghayatan terhadap sejumlah tokoh ideal/mitis seperti tokoh Duanisuani, Soti, Meti, Wati dan Peagabega. Dari sejumlah unsur kultural tersebut, orang Migani menampilkan tokoh Peagabega sebagai Yesus menurut pola kebudayaannya sendiri. Peagabega dianggap Yesus karena kisah hidupnya mirip dengan kisah hidup tokoh historis Yesus dari Nazaret sebagaimana dimaklumkan Gereja kepada mereka. Dalam hidupnya, Peagabega sangat populer kala itu karena perkataan dan perbuatannya sungguh mengagumkan banyak orang. Peagabega tidak mengajar seperti Yesus lakukan kepada para pengikut-Nya tetapi ia tunjukkan hidup yang baik secara etis, sosial dan moral kepada orang-orang Migani melalui sikap hidupnya.

Pada akhirnya orang Migani menyadari bahwa ternyata Yesus Kristus yang dimaklumkan Gereja itu mirip dengan kisah hidup dan karya tokoh Peagabega yang terdapat dalam kebudayaan mereka.[i] Oleh karena itu, mengetahui segala yang dilakukan Peagabega dalam kehidupan orang Migani, maka masyarakat setempat mulai melihat dan memaknai hal-hal yang sama pada diri Kristus, yakni keduanya memiliki sifat manusiawi dan adi-manusiawi, kisah hidupnya berbeda dan unik dari orang-orang yang hidup pada zamannya, Kristus datang ke dunia untuk mewartakan Kerajaan Allah[ii] dan Kerajaan Allah yang diwartakan bukan soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Rom 14:17) mirip dengan apa yang dilakukan Peagabega yaitu memberi umur panjang, mencegah berbagai kejahatan, kematian, dan juga mencegah terjadinya bencana alam seperti banjir dan longsor. Selain itu, sikap dan teladan hidup Peagabega mengenai pentingnya memperjuangkan kebenaran dan keadilan yang diwujudkan melalui sikap hidup sama dengan ajaran Kristus kepada murid-murid-Nya dan kepada semua orang yang Ia layani.[iii] Dalam ceritera Peagabega juga dikatakan bahwa ia dalam hidup dan karyanya mendatangkan konflik dalam masyarakat umum mirip dengan hidup dan karya Yesus yang dianggap melawan tradisi orang Yahudi.[iv] Begitu pun dengan kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus memiliki kemiripan dengan ceritera tentang pembunuhan dan “kebangkitan” Peagabega.

Bertolak dari penjelasan tersebut maka tokoh ideal Peagabega telah dijadikan sarana oleh Gereja bersama umat setempat untuk berkristologi kontekstual. Dalam rangka menggali sebuah kristologi yang kontekstual, maka tokoh Peagabega dilihat sebagai sarana kultural yang cocok bagi orang Migani dalam upaya menerima dan mengimani Yesus Kristus. Dalam arti ini, tokoh Peagabega merupakan medium yang dipakai Gereja bersama umat setempat dalam rangka mengimani Yesus Kristus secara lebih mendalam lagi. Maka itu, jelaslah bahwa Peagabega bukanlah tujuan dan sasaran iman melainkan hanya sebagai sarana. Oleh karena itu, penghayatan iman yang kontekstual melalui tokoh Peagabega ini dapat menghantar orang Migani pada tujuan yang sesungguhnya yakni agar mereka semakin beriman kepada Yesus Kristus sebagai puncak Wahyu dan pusat iman kristiani.[v] Inilah tujuan utama yang hendak dicapai oleh Gereja bersama orang Migani Katolik di Paroki Bilogai melalui upaya inkulturasi tokoh Peagabega dalam liturgi Jumat Agung.

Pengungkapan iman yang kontekstual tersebut amat membantu orang Migani dalam menghayati Yesus Kristus secara lebih mendalam. Maka itu, hasil akhir yang hendak dicapai melalui upaya inkulturasi tokoh Peagabega dalam liturgi Jumat Agung adalah agar orang Migani dapat berkristologi secara kontekstual; sehingga dengan demikian, mereka mampu mengungkapkan imannya akan Yesus Kristus sesuai dengan pola kulturnya sendiri.[vi] Maka, melalui pewartaan Gereja mengenai Kristus dan ajaran-Nya tersebut, orang Migani pun mulai menerima, menghayati, dan kemudian mengakui Yesus Kristus sebagai puncak Wahyu, mediator Allah dan manusia, serta pusat iman kristiani. Pengakuan ini tentu muncul karena mereka percaya, dalam hal ini, mereka mempunyai pengalaman iman. Pengalaman iman mereka itu tentu berbeda dengan pengalaman para rasul dan orang-orang Yahudi, yang secara fisik dapat melihat, mendengarkan dan menjamah Yesus secara langsung.[vii] Maka dapat dikatakan bahwa pengalaman iman orang Migani melalui tokoh Peagabega dilihat sebagai bagian dari karya Roh Kudus dalam konteks kebudayaan setempat.[viii]

Dalam kaitannya dengan karya Roh Kudus tersebut, refleksi iman yang sesuai konteks juga merupakan karya Roh Kudus bagi setiap orang di berbagai kebudayaan. Karya Roh Kudus yang dimaksud bersandar pada dimensi Kristus iman (fungsional) yang hadir dan menyapa setiap suku bangsa di dunia ini dalam bentuk/wujud yang lain, terutama sesudah mengalami kebangkitan-Nya.[ix] Dengan demikian, setiap orang mengalami Roh Kudus dalam situasi dan konteks kebudayaannya yang konkret. Dalam hal ini, setiap orang berusaha untuk mendalami arti Yesus Kristus dalam hidup dengan berpangkal pada pengalamannya sendiri. Maka, sejak Konsili Vatikan II Gereja semakin menyadari dirinya bukan hanya sebagai penderma agung yang menyampaikan kebenaran-kebenaran kepada dunia, melainkan juga sebagai penerima. Dalam hal ini, budaya-budaya yang mendengarkan pewartaan mengenai Yesus Kristus dapat memperkaya Gereja.[x]

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa upaya inkulturasi tokoh Peagabega dalam liturgi Gereja hendak menunjukkan adanya kekayaan nilai kultural yang positif dalam kehidupan suku bangsa Migani. Kekayaan nilai kultural tersebut diambil oleh Gereja sebagai sarana dalam memperkenalkan Kristus dan ajaran-Nya kepada orang Migani; sehingga dengan demikian, pewartaannya sungguh-sungguh mengakar dalam kultur setempat.[xi] Dalam hal ini, Gereja tidak bersikap eksklusif terhadap nilai-nilai positif yang terdapat di dalam setiap suku bangsa di dunia ini.[xii] Atau dengan kata lain, Gereja tetap bersikap inklusif dan siap menerima nilai-nilai kultural yang positif untuk kemudian dijadikan sarana dan partner dialog dalam menyampaikan warta tentang Yesus Kristus sesuai konteks kebudayaan setempat;[xiii] dan tentu sejauh nilai-nilai tersebut tidak bertentangan dengan ortodoksi iman Katolik; sehingga dengan demikian, umat setempat semakin mengenal, menghayati dan kemudian mengakui Kristus sebagai Kepenuhan Wahyu Allah dan satu-satunya penyelamat umat manusia.[xiv]

CATATAN AKHIR:



[i] Bdk. Stephen B. Bevans, Model-Model Teologi Kontekstual, Maumere: Ledalero, 2002, hlm. 162-163.
[ii] Bdk. Frans Harjawiyata, Yesus dan Situasi Zaman-Nya, Yogyakarta: Kanisius, 1998, 106-125; Lih. juga, Dr. C. Groenen, OFM, Peristiwa Yesus, Yogyakarta: Kanisius, 1979, hlm. 66-91.
[iii] Bdk. B. F. Drewes, Satu Injil Tiga Pekabar, Jakarta: Gunung Mulia, 2001, hlm. 208-212.
[iv] Bdk.  I. Suharyo, Pengantar Injil Sinoptik, Yogyakarta: Kanisius, 1989, hlm. 21.
[v] Bdk. JB. Banawiratma, SJ, (Editor), Kristologi dan Allah Tritunggal, hlm. 24-25.
[vi]Bdk. Daniel, J. Adams, Teologi Lintas Budaya, Jakarta: Gunung Mulia, 1992, hlm. 63.
[vii] Bagian ini mengikuti pemikiran JB. Banawiratma, SJ, (Editor), Kristologi dan Allah Tritunggal, hlm. 42.
[viii] Bdk. Kongregasi untuk Ajaran Iman, “Deklarasi ‘Dominus Iesus’ (Pernyataan tentang ‘Yesus Tuhan’)”, dalam Seri Dokumen Gerejawi No. 60, Dokpen KWI, Jakarta: KWI, 2001, hlm. 32.
[ix] Anscar J. Chupungco, Penyesuaian Liturgi dalam Budaya (terj.), Yogyakarta: Kanisius, 1987, hlm. 76; Lih. juga, RMi 28.
[x] JB. Banawiratma, SJ, (Editor), Kristologi dan Allah Tritunggal, hlm. 42-43; Bdk. De Liturgia Romana et Inculturazione (Liturgi Romawi dan inkulturasi), dalam Seri Dokumen Gerejawi No. 40, Dokpen KWI, Jakarta: KWI, 2004, hlm. 13-14; Lih. juga, RMi. 63.
[xi] Bdk. Bernardus Boli Ujan, dkk (ed.), Liturgi Autentik dan Relevan, hlm. 74-75; Bdk. EN 63, GS, art. 44.
[xii] Selengkapnya baca GS, art. 58.
[xiii] Dalam proses menjumpai pelbagai kebudayaan dunia, Gereja tidak hanya menyalurkan kebenaran-kebenaran dan nilai-nilainya, tetapi mengangkat juga dari pelbagai kebudayaan unsur-unsur positif yang sudah terdapat di dalamnya. Lih. Yohanes Paulus II: Anjuran Apostolik Pasca Sinodal di New Delhi tentang Gereja di Asia (Church in Asia), dalam Seri Dokumen Gerejawi No. 57, Dokpen KWI, Jakarta: KWI, 1990, hlm. 54.
[xiv] Bdk. Kongregasi untuk Ajaran Iman, “Deklarasi ‘Dominus Iesus’ (Pernyataan tentang ‘Yesus Tuhan’)”, dalam Seri Dokumen Gerejawi No. 60, hlm. 22-27.


GAMBARAN KRISTUS YANG DIMAKLUMKAN GEREJA DALAM KULTUR SUKU MIGANI


Oleh Kleopas Sondegau MIGANIJU
(Mahasiswa Magister  Ilmu Teologi Pasca-Sarjana, Universitas Katolik Parahyangan Bandung).

Foto Kleopas Sondegau
Dokumen pribadi.
Gereja memaklumkan kepada orang Migani bahwa tokoh Yesus merupakan seorang pribadi yang paling berpengaruh dalam sejarah.[i] Ia seorang Yahudi dari Galilea, keturunan Daud dan anak seorang perempuan bernama Maria, istri Yosef, seorang tukang kayu dari Nazaret.[ii] Sesudah dibaptis oleh Yohanes, Yesus mewartakan Kerajaan Allah melalui berbagai karya (mukjizat-mukjizat) dan ajaran-Nya (perumpamaan-perumpamaan). Yesus banyak bergaul dengan orang-orang kecil, yang menderita dan tersisih. Dalam kehidupan-Nya itu Ia dianggap melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kebiasaan hidup orang Yahudi seperti menantang cara hidup saleh (Mat 6:1-18), keinginan-Nya untuk meluruskan tradisi-tradisi tertentu (Mrk 7:1-21), sikap-Nya terhadap Kenisah di Yerusalem (Mrk 14:58; 15:29), dan pelanggaran-Nya terhadap peraturan Sabat (Mrk 2:23-27).[iii]

Kehidupan yang demikian menimbulkan perlawanan dari beberapa pemimpin dan guru Yahudi. Oleh karena itu, Yesus dijatuhi hukuman mati oleh Pontius Pilatus, disalibkan, dan selanjutnya dikuburkan. Sesudah itu, tepat pada hari ketiga Ia pun bangkit lalu menampakkan diri kepada para murid. Demikianlah para murid mengakui dan mewartakan bahwa Yesus yang bangkit dan mulia adalah Kristus (atau Mesias), Penyelamat, Tuhan, dan Anak Allah.[iv]

Selain pewartaan Gereja tentang Yesus Kristus di atas, ada juga sejumlah gambaran Kristus yang diperkenalkan kepada orang Migani. Gambaran Kristus yang dimaksud akan mengikuti pemikiran Agus A. Alua mengenai “Gambaran Kristus yang Dipertemukan kepada Orang Irian”. Sejumlah gambaran Kristus yang dimaklumkan oleh Gereja seperti yang disebutkan Agus Alua kurang lebih pewartaan yang sama terjadi juga dalam suku bangsa Migani, yakni: Pertama, pewartaan mengenai Kristus yang wafat dan bangkit. Pada aspek ini Gereja lebih menonjolkan Kristus yang bangkit dan dimuliakan oleh Allah dari cengkeraman maut. Ditekankan juga bahwa Kristus telah mengalahkan maut dan bagi siapa yang percaya akan dibangkitkan oleh Kristus pada akhir zaman. Maka itu, kematian bagi orang kristen bukan akhir dari kehidupan melainkan awal dari hidup baru sama seperti Kristus yang telah mengalahkan maut dan mengaruniakan kehidupan baru.

Kedua, Kristus Sang Penyelamat. Pada aspek ini Gereja mewartakan bahwa Kristus adalah satu-satunya penyelamat manusia. Orang yang percaya kepada-Nya dan melakukan hal-hal baik akan memperoleh ganjaran keselamatan dari Tuhan di akhir zaman. Di luar Kristus dan Gereja-Nya tidak ada keselamatan (Extra Ecclesiam Nulla Salus). Maka, orang supaya selamat harus dikristenkan. Keselamatan dalam dunia ini kurang sempurna dan belum definitif karena keselamatan definitif akan terjadi di surga pada pengadilan terakhir. Untuk itu, kaum beriman harus menerima sejumlah paket sakramen sebagai penyalur rahmat Allah.

Ketiga, Kristus diyakini akan kembali. Pada bagian ini pewartaannya lebih menekankan aspek pengadilan terakhir dengan Tuhan sebagai hakim untuk mengadili orang hidup dan mati. Ia akan datang pada hari terakhir (parousia) dengan membawa keselamatan dan hidup baru. Kini setiap orang harus bersiap-siap dan berjaga-jagalah, sebab Ia akan datang bagaikan pencuri di waktu malam. Keempat, Kristus sebagai Pengampun. Pada bagian ini diwartakan bahwa Kristus tidak menghukum orang yang bersalah tetapi Ia akan mengampuni mereka. Ia selalu memberi kesempatan supaya orang bertobat. Orang berdosa harus minta pengampunan dan absolusi dari para imam serta sejauh mungkin berdamai dengan sesama (rekonsiliasi). Orang yang bersalah terhadap sesama haruslah diampuni, jangan membalas dengan kejahatan.

Kelima, Kristus dihayati dalam sakramen. Pada bagian ini dimaklumkan bahwa Kristus secara istimewa hadir dalam sakramen-sakramen terutama dalam sakramen Ekaristi. Liturgi Gereja dipandang sebagai sarana efektif keselamatan dan pertemuan dengan Tuhan. Orang yang terlibat dalam perayaan liturgis harus bersikap iman yang wajar sebagaimana yang diajarkan oleh Gereja. 

Keenam, Kristus berasal dari luar dunia manusia. Bagian ini ditekankan bahwa Kristus itu orang dari luar dunia manusia. Ia seorang yang luhur dan ilahi, maka Ia tidak sebanding dengan manusia. Ia melampaui segala budaya bangsa (supra cultur) sehingga keterlibatan-Nya dalam budaya akan menguduskannya.

Ketujuh, Kristus dalam kesalehan moral dan spiritual. Pada bagian ini para pewarta menyatakan bahwa Kristus adalah seorang yang saleh dan penuh dengan cinta kasih. Ia selalu berbelas kasih kepada semua orang sehingga rela mati demi menebus dosa manusia. Kaum beriman harus memperjuangkan sikap moral dan spiritual seperti Yesus sebagaimana dihayati oleh biarawan-biarawati. Kedelapan, Kristus dalam Perjanjian Baru (PB). Kristus eskatologis merupakan salah satu poros pewartaan Gereja Perdana dari pelbagai gambaran Kristus. Keanekaragaman wajah Kristus ditampilkan Gereja Purba dalam rangka pewartaan tentang Kristus yang bangkit. Keanekaragaman itu tidak dipertentangkan dan tidak diberikan prioritas tertentu. Gambaran itu antara lain, Kristus ditampilkan sebagai Gembala, Guru, Penyelamat, Pengampun, yang tersalib, yang bangkit, yang nampak diri dan seterusnya.[v] Demikianlah gambaran-gambaran tentang Kristus yang diwartakan Gereja dalam kultur orang Migani. 


Foto Kleopas Sondegau saat berada di Gua Maria Stasi Agapa - Paroki Bilogai Intan Jaya.



CATATAN AKHIR:



[i] Michael Keene, Yesus, Yogyakarta: Kanisius, 2007, hlm. 6.
[ii] Bdk. Leslie Houlden (ed.), Jesus in History, Thought, and Culture, An Encyclopedia, Volume One: A-J, Santa Barbara, California: ABC CLIO, 2003, hlm. 429-430.
[iii] Gerald O’Collins, dkk., Kamus Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 1996, hlm. 356-357.
[iv] Ibid.
[v] Agus A. Alua, Gambaran Makhluk Ideal Dalam Mitos-Mitos Irian Sebelum dan Setelah Bertemu Kristus, hlm. 64-68.

TANGGAPAN KRITIS ATAS PRAKTEK INKULTURASI TOKOH IDEAL PEAGABEGA DALAM LITURGI JUMAT AGUNG DI PAROKI BILOGAI, KEUSKUPAN TIMIKA


Oleh
Kleopas Sondegau MIGANIJU
(Mahasiswa Magister  Ilmu Teologi Pasca-Sarjana, Universitas Katolik Parahyangan Bandung).

Fr. Kleopas
Foto Kleopas Sondegau
Dokumen Pribadi. 
Tokoh ideal Peagabega adalah seorang tokoh penyelamat bagi orang Migani. Ia diyakini sebagai tokoh penyelamat karena jauh sebelum Gereja datang mewartakan Kristus dan ajaran-Nya, Peagabega sudah lebih dahulu menghadirkan keselamatan hidup ideal bagi masyarakat setempat. Dalam perkembangan hidup selanjutnya, Gereja pun datang memaklumkan Kristus dan ajaran-Nya kepada orang Migani. Dalam upaya pewartaan tersebut, Gereja mengajarkan bahwa hanya di dalam dan melalui Yesus dari Nazaret Allah sendiri memperlihatkan diri-Nya kepada seluruh umat manusia termasuk manusia Migani.[i]
Terkait dengan hal itu, maka Yesus Kristus merupakan puncak dari Wahyu Allah sendiri dan karena itu telah menjadi pusat iman bagi kaum beriman Kristiani. Maka konsekuensinya adalah setiap suku bangsa diharapkan untuk menerima dan mengakui ajaran iman tentang Yesus Kristus yang demikian. Dalam konteks ini, tidak ada mediator dan Wahyu lain selain Yesus dari Nazaret sebagai pengantara keselamatan yang sejati dan puncak kepenuhan Wahyu.[ii] Di luar dari pemakluman ini dianggap berlawanan dengan iman Gereja Katolik.[iii]
Walaupun Gereja mengajarkannya demikian, ia juga tidak menutup diri terhadap nilai-nilai positif yang terdapat di dalam berbagai kebudayaan suku bangsa yang dijumpainya termasuk suku bangsa Migani; sebab nilai-nilai tersebut dimaknai sebagai benih yang ditaburkan Allah dalam konteks kultur setempat (AG 22).[iv] Oleh karena itu, Gereja berharap agar nilai-nilai kultural yang dimaksud dapat diambil sebagai sarana dalam pewartaan Kristus sejauh tidak bertentangan dengan dogma resmi Gereja.[v] Terkait dengan hal ini, maka tokoh ideal Peagabega sebagai salah satu nilai positif dalam kultur orang Migani telah diambil dan dijadikan sarana oleh Gereja dalam mewartakan Kristus dan ajaran-Nya kepada masyarakat setempat.[vi] Dalam hal ini, nilai-nilai kultural yang ada dipakai sebagai sarana dalam mengimani Kristus secara kontekstual. Oleh sebab itu, dalam pemaparan ini penulis akan memberi fokus pada tokoh Yesus Kristus dan tokoh ideal Peagabega. Kedua tokoh ini merupakan pribadi yang dengan kekhasannya masing-masing telah menampilkan wajah Allah sendiri dalam konteks kultur yang berbeda.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka Allah dapat memperlihatkan diri-Nya kepada setiap suku bangsa melalui tokoh-tokoh ideal yang terdapat dalam kebudayaan setempat. Oleh karena itu, kehadiran tokoh Peagabega dapat dimaknai sebagai cara Allah hadir dan menyapa manusia Migani melalui pribadi yang berasal dari suku setempat agar Ia mudah dikenal. Begitu pun dengan Allah yang memperlihatkan diri-Nya kepada manusia Yahudi melalui tokoh Yesus dari Nazaret. Dalam hal ini, Allah hadir dan menyapa orang Yahudi melalui pribadi yang berasal dari suku setempat. Demikianlah cara Allah mewujudkan karya keselamatan-Nya bagi setiap suku bangsa di bumi ini. Dengan kata lain, Allah menggunakan tokoh-tokoh ideal dalam setiap suku bangsa sebagai sarana untuk menampakan wajah-Nya; sehingga dengan demikian, Ia mudah dikenal oleh masyarakat setempat. Dalam konteks ini, tokoh Yesus maupun Peagabega merupakan pribadi historis yang dipakai Allah untuk memperkenalkan diri-Nya kepada suku bangsa Yahudi maupun suku bangsa Migani. Maka itu, Allah tidak berada jauh dari kehidupan manusia sebab Ia hadir dan menjumpai setiap suku bangsa sesuai dengan konteks setempat (ingat nama “Imanuel” yang berarti: “Allah beserta kita” dalam Mat 1:23[vii]).
Bertolak dari penjelasan tersebut, maka terlihat jelas bahwa tokoh Yesus dari Nazaret maupun tokoh Peagabega orang Migani berada pada posisi yang sama yakni keduanya sebagai tempat Allah menampakan wajah-Nya. Oleh karena itu, tokoh Yesus dimaknai sebagai sang penyelamat dalam kultur orang Yahudi khususnya bagi para pengikut-Nya sedangkan Peagabega sebagai tokoh penyelamat dalam kultur orang Migani khususnya bagi orang Migani beragama Katolik. Dalam arti ini, orang Migani menerima dan mengakui Peagabega sebagai penyelamat mereka karena sebelum Gereja datang memaklumkan Kristus, masyarakat setempat sudah lebih dahulu mengalami keselamatan hidup melalui tokoh ideal Peagabega. Maka itu, penulis merasa perlu untuk menunjukkan sekaligus menawarkan gagasan seperti ini tanpa bermaksud mereduksi ajaran Gereja tentang Yesus Kristus. Tujuannya adalah agar nilai-nilai positif dalam setiap suku bangsa tetap dihormati sebagai tempat Allah menampakan wajah-Nya; sehingga dengan demikian, nilai-nilai kultural yang satu tidak merasa lebih unggul dari nilai-nilai positif dalam kultur yang lain.[viii]
Perayaan Inkulturasi Jumat Agug
Foto Dokumen Kleopas Sondegau 
Oleh karena itu, refleksi iman orang Migani atas Kristus sebagai Peagabega atau sebaliknya pengakuan terhadap Peagabega sebagai Yesusnya orang Migani perlu dihargai dan diberi apresiasi. Adanya penghayatan dan pengakuan iman seperti itu hendak menunjukkan sebuah usaha yang dilakukan dalam rangka berkristologi kontekstual. Tujuannya adalah untuk membantu masyarakat setempat semakin mengimani Yesus Kristus sebagai sang puncak Wahyu, pengantara keselamatan yang sejati dan pusat iman bagi kaum beriman kristiani. Dalam rangka tujuan tersebut, maka tokoh Peagabega telah diinkulturasikan dalam liturgi Gereja tepatnya saat upacara Jumat Agung di Paroki Bilogai. Dalam drama kisah sengsara Kristus yang dilakukan oleh umat setempat, pemeran tokoh Yesus dari Nazaret selalu diberi nama Peagabega. Demikianlah praktek perayaan iman yang dilaksanakan secara kontekstual sesuai dengan pola kebudayaan suku bangsa Migani.
Foto Umat Paroki Missael Kammerel Bilogai
Dokumen Kleopas Sondegau
Terkait dengan hal itu, maka sikap umat Paroki Bilogai ketika inkulturasi Peagabega dilaksanakan dalam liturgi Jumat Agung adalah mereka semakin bersikap terbuka untuk menerima diri sebagai para pendosa yang membutuhkan pertobatan. Mereka mulai memaknai sengsara dan wafat Yesus di salib sebagai jalan untuk menyelamatkan seluruh umat manusia termasuk orang Migani sendiri. Maka, melalui drama jalan salib yang dilakukan dalam konteks setempat amat membantu mereka untuk semakin beriman kepada Kristus. Penghayatan iman akan Kristus tersebut diungkapkan lewat sikap pengakuannya terhadap Peagabega sebagai Yesusnya sendiri menurut pola kebudayaan setempat. Penghayatan iman yang demikian ini tidak bermaksud untuk mereduksi ajaran Gereja tentang Yesus Kristus. Dalam hal ini, tokoh Peagabega hanyalah sarana kultural yang dipakai oleh Gereja untuk mewartakan Kristus secara kontekstual; sehingga dengan demikian, orang Migani semakin mengenal, menerima dan kemudian mengimani Kristus secara lebih mendalam lagi.

CATATAN AKHIR:



[i] Bdk. Kongregasi untuk Ajaran Iman, “Deklarasi ‘Dominus Iesus’ (Pernyataan tentang ‘Yesus Tuhan’)”, dalam Seri Dokumen Gerejawi No. 60, hlm. 22-27.
[ii] Bdk. Ibid.
[iii] Ibid., hlm. 23, 35.
[iv] Bdk. Aylward Shorter, Evangelization and Culture, London: Geoffrey Chapman/Maryknoll. NY.: Orbiks Books, 1994, hlm. 34-36.
[v] Bdk. Kongregasi untuk Ajaran Iman, “Deklarasi ‘Dominus Iesus’ (Pernyataan tentang ‘Yesus Tuhan’)”, dalam Seri Dokumen Gerejawi No. 60, hlm. 33-36.
[vi] Dalam teologi rahmat dikatakan bahwa setiap kultur manusiawi terkandung di dalamnya rahmat Allah yang pada akhirnya siap menjadi partner dialog dengan iman kristiani yang datang kemudian. Keberadaan tokoh Peagabega ini bagian dari salah satu unsur kultural yang mengandung nilai dan kearifan lokal sebagai buah rahmat yang telah tertabur berkat inkarnasi Allah ke dalam dunia ini.
[vii] Tom Jacobs, SJ, IMANUEL: Perubahan dalam Perumusan Iman akan Yesus Kristus, hlm. 69.
[viii] Melalui pembahasan tersebut penulis ingin mengusulkan cara pandang dan pola pikir yang baru tanpa bermaksud mereduksi Yesus Kristus sebagai perantara keselamatan yang sejati dan puncak Wahyu Allah bagi seluruh umat manusia termasuk manusia Migani.

PENDASARAN TEOLOGI-KRISTOLOGIS ATAS PENGAKUAN YESUS KRISTUS PEAGABEGA


(Sebuah Usaha Berkristologi dalam Konteks Budaya Suku Migani)
Oleh
Kleopas Sondegau MIGANIJU
 (Mahasiswa Magister  Ilmu Teologi Pasca-Sarjana, Universitas Katolik Parahyangan Bandung).


Pada bagian ini penulis akan membahas dan mendalami kehadiran tokoh ideal Peagabega dalam suku bangsa Migani dari perspektif kristofani[i]. Walaupun kristofani berkaitan dengan penampakan-penampakan Yesus Kristus kepada para murid sesudah kebangkitan-Nya, namun penulis akan menggunakan makna kristofani tersebut dengan pendekatan Kristus iman untuk menunjukkan bagaimana Kristus yang bangkit itu hadir dan menampakan diri kepada orang Migani melalui kuasa Roh Kudus-Nya dalam diri tokoh Peagabega (bdk. Yoh 10:10). Dalam arti ini, Kristus yang bangkit tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu apalagi dengan ciri-ciri fisik tertentu. Ia juga tidak menyandang identitas manusiawi-Nya untuk memperlihatkan diri kepada setiap suku bangsa di bumi ini termasuk suku bangsa Migani.[ii] Oleh karena itu, Kristus yang bangkit kini hadir melalui kuasa Roh Kudus-Nya dalam diri tokoh-tokoh ideal yang ada seperti tokoh Peagabega dalam kultur orang Migani.[iii] Maka itu, penulis melihat dan memaknai kehadiran tokoh ideal Peagabega dalam suku bangsa Migani sebagai kehadiran Kristus sendiri dalam rupa manusia Migani.

Dalam kaitannya dengan penjelasan tersebut, maka nilai-nilai hidup positif yang ditunjukkan Peagabega semasa hidup dapat dimaknai sebagai kelanjutan dari karya keselamatan Kristus sendiri yang berlangsung melalui kuasa Roh Kudus-Nya dalam konteks suku Migani (bdk. Yoh 14:26; 15:26; 16:7).[iv] Dalam hal ini, Yesus Kristus hadir dan menyapa setiap suku bangsa dalam bentuk/wujud yang lain sesuai konteks setempat terutama sesudah Ia mengalami kebangkitan-Nya.[v] Kristus yang bangkit dengan mulia tersebut melalui kuasa Roh Kudus-Nya kini hadir dalam suku bangsa Migani melalui tokoh Peagabega.[vi] Maka itu, kita mengalami karya Roh Kudus dalam hidup kita yang konkret, dalam situasi dan kebudayaan kita yang konkret pula. Dengan demikian, setiap orang berusaha untuk mendalami arti dan makna Yesus Kristus dalam hidup dengan berpangkal pada pengalamannya sendiri. Pemahaman yang sesuai konteks kultur seperti ini amat penting karena bagaimanapun juga kita menangkap sesuatu, mengerti sesuatu sesuai dengan keadaan kita yang konkret.[vii]

Oleh karena itu, tokoh ideal Peagabega maupun tokoh Yesus Kristus, dalam arti tertentu dapat dimaknai sebagai satu oknum atau satu gambaran kehidupan dengan “dua nama”. Misalnya, Kristus yang satu dan sama itu bernama Peagabega berdasarkan perspektif suku bangsa Migani, atau dengan kata lain, orang Migani menyebut Kristus sebagai Peagabega; dan sebaliknya Peagabega adalah nama lain dari Kristus yang bangkit. Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa Yesus Kristus yang bangkit dengan mulia itu kini hadir dalam wujud manusia Peagabega dari suku bangsa Migani. Hal ini dilandasi oleh sebuah keyakinan iman bahwa Kristus setelah mengalami kebangkitan-Nya, Ia sudah tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Maka itu, kini Kristus hadir di segala tempat dan zaman melalui eksistensi diri-Nya yang ilahi dan mulia.[viii] Dalam hal ini, Kristus tidak lagi membutuhkan identitas manusiawi-Nya untuk menampakkan diri kepada segala suku bangsa di bumi ini termasuk suku bangsa Migani (ingat peristiwa penampakan Yesus Kristus kepada para murid ketika pintu rumah masih terkunci dalam Yoh 20:19, 26). Pola penampakan Kristus yang demikian ini terjadi juga dalam konteks kultur orang Migani melalui tokoh Peagabega sehingga kehadiran-Nya tentu mengatasi ruang dan waktu.

Bertolak dari pendasaran kristologis dengan pendekatan kristofani sebagaimana sejumlah penjelasan di atas, maka tokoh Yesus Kristus maupun Peagabega yang diyakini sebagai tokoh penyelamat, sesungguhnya adalah satu pribadi tetapi menyandang nama yang berbeda. Dalam arti ini, Kristus yang satu dan sama itu, sesudah mengalami kebangkitan-Nya, Ia hadir melalui kuasa Roh Kudus dalam wujud manusia Peagabega.[ix] Maka itu, keberadaan tokoh ideal Peagabega dapat dimaknai sebagai Kristus sendiri yang hadir dan menyapa orang Migani sesuai dengan konteks setempat; sebab berdasarkan refleksi iman orang Migani beragama Katolik, kedua tokoh ini adalah satu pribadi dengan “dua nama”. Bertolak dari refleksi iman seperti ini, maka konsekuensinya adalah umat setempat dapat menyebut: “Kristus sama dengan Peagabega, bukan lagi mirip seperti Peagabega”. Dengan adanya refleksi terhadap Yesus Kristus yang demikian tentu tidak bermaksud mereduksi ajaran resmi Gereja apalagi hendak mengabaikannya. Maka sambil berpegang teguh pada ajaran Gereja, ekspresi iman seperti itu dalam konteks inkulturasi memang dibutuhkan bahkan harus dilakukan demi alasan pastoral.[x] Dengan demikian, melalui upaya seperti itu diharapkan dapat mewartakan Kristus dan ajaran-Nya sesuai konteks masyarakat setempat sehingga pewartaannya sungguh-sungguh mengakar dalam kultur orang Migani.

Pendasaran kristologis yang dikaji berdasarkan sudut pandang kristofani sebagaimana telah diuraikan di atas bukan tanpa alasan. Oleh sebab itu, beberapa teks Kitab Suci PB berikut akan menjadi alasan pokok untuk membuktikan bahwa Yesus Kristus itu benar-benar hadir dan menyapa setiap suku bangsa di bumi ini termasuk suku bangsa Migani melalui tokoh-tokoh ideal yang ada seperti Peagabega. Dalam arti ini, Yesus Kristus tidak berhenti menjadi orang Yahudi tetapi melalui peristiwa inkarnasi Ia pun menjumpai setiap suku bangsa sesuai dengan konteks masyarakat setempat.[xi] Untuk itu, beberapa teks biblis berikut akan semakin memperjelas dan sekaligus memperkuat pendasaran kristologis atas pengakuan Yesus Kristus Peagabega.[xii]
Yoh 1:14  : Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Flp 2:6-7   : .......Yesus Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Kutipan teks PB di atas terlihat jelas bahwa teks tersebut membuka kemungkinan atau semacam memberi peluang bagi setiap suku bangsa termasuk suku bangsa Migani untuk mengungkapkan pandangannya sendiri tentang siapa itu Yesus Kristus dan bagaimana Ia bermakna bagi kehidupan masyarakat setempat. Dalam hal ini, misteri inkarnasi Kristus dilihat dan dimaknai sebagai suatu bentuk kontekstualisasi sehingga setiap suku bangsa dapat merefleksikan tokoh Yesus Kristus sesuai dengan pola kulturnya masing-masing. Melalui inkarnasi Kristus tersebut, Ia tentu tidak menolak kebudayaan Yahudi namun Yesus Kristus juga tidak berhenti menjadi orang Yahudi. Oleh sebab itu, peristiwa inkarnasi Kristus tidak hanya terbatas pada bangsa Yahudi saja melainkan berlaku juga untuk segala suku bangsa di bumi ini termasuk suku bangsa Migani.[xiii]

Berpijak pada pemahaman iman seperti itu, maka orang Migani pun semakin percaya bahwa Yesus Kristus itu hadir dalam kultur mereka. Ia yang menjelma menjadi manusia dan yang bangkit dari alam maut tersebut kini sudah tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu. Oleh karena itu, Kristus melalui kuasa Roh Kudus-Nya hadir dan memperlihatkan diri kepada suku bangsa Migani dalam rupa manusia Peagabega. Dalam hal ini, Kristus tidak bersembunyi atau menyembunyikan diri-Nya dari kehidupan masyarakat Migani. Ia juga tidak berada jauh di sana melainkan ada dan hidup bersama-sama dengan orang Migani dalam konteks masa kini (bdk. Yoh 10:10).[xiv] Cara pandang seperti ini akan terasa kurang logis bahkan hampir mustahil bila kita memaknainya dari perspektif Yesus historis (berasal dari Nazaret, orang Yahudi) namun penulis menyajikannya demikian berdasarkan perspektif Kristus iman (peristiwa inkarnasi Kristus dan karya-Nya sesudah bangkit melampaui batas ruang dan waktu).

Penjelasan tersebut hendak menegaskan bahwa misteri hidup Yesus Kristus itu tak pernah tuntas dibahas oleh siapa pun dan kapan pun.[xv] Dalam hal ini, misteri Kristus begitu dalam dan luas, sehingga tidak mungkin dirumuskan atau diungkapkan secara holistik dalam suatu rumusan tertentu. Kristus juga sebagai seorang pribadi tidak sepenuhnya dipahami dan dideskripsikan, apalagi dihayati dalam satu definisi.[xvi] Oleh karena itu, Yesus Kristus tidak pernah selesai dibahas dalam suatu aliran teologi tertentu atau pun dalam rumusan dogma-dogma kristiani; sebab iman akan Kristus tidak terikat pada kata atau rumus tertentu, melainkan menyangkut fakta dan pengalaman hidup manusia sepanjang zaman.[xvii] Hal ini hendak menunjukkan bahwa setiap generasi yang hidup pada zaman tertentu memiliki pandangannya sendiri tentang Yesus Kristus sesuai konteks setempat. Salah satu contohnya adalah Kristus yang satu dan sama itu dilihat dan dimaknai dari perspektif yang berbeda oleh generasi tertentu sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Suci PB.[xviii]

Dengan adanya realitas seperti itu, maka tidak salah dan bukan keliru bila setiap suku bangsa termasuk suku bangsa Migani sambil berpedoman pada ajaran resmi gereja, menampilkan paham Kristusnya sendiri berdasarkan latar belakang hidup, pola pikir dan konteks kebudayaan setempat. Tujuannya tidak lain adalah agar umat setempat semakin mengimani Yesus Kristus secara kontekstual. Di sinilah Kristus itu justru memiliki nilai dan makna yang universal bagi segala suku bangsa di bumi ini.[xix] Dengan menyadari bahwa Kristus itu universal, maka orang Migani melihat Dia dalam kebudayaannya sendiri melalui kehadiran tokoh ideal Peagabega.[xx] Dalam konteks ini, jika Kristus itu tidak universal maka tentu tidak mungkin ada upaya kontekstualisasi yang dilakukan seperti adanya kristologi Afrika, Korea, India, Amerika Latin, kristologi dari sudut pandang perempuan Asia, Black Theology, dan lain-lain.

Berkaitan dengan hal itu, bukan tidak mungkin lagi untuk memaknai Kristus secara demikian sebab umat kristiani secara jelas mengimani bahwa Putra Allah telah merendahkan diri dari tempat kediaman-Nya yang tinggi, diam di antara kita untuk menebus kita (lih. Yoh 1:14). Teks biblis ini secara jelas menunjukkan bahwa Yesus Kristus itu tidak berada jauh di sana melainkan Ia hadir dan menyapa setiap suku bangsa di bumi ini sesuai dengan konteks kultur setempat termasuk suku bangsa Migani melalui tokoh ideal Peagabega agar masyarakat setempat mengalami keselamatan hidup ideal. Dalam arti ini, Kristus dapat dijumpai melalui tokoh-tokoh ideal yang terdapat dalam setiap kebudayaan suku bangsa di dunia ini, terutama sejauh tokoh-tokoh tersebut menghadirkan keselamatan hidup ideal bagi masyarakat setempat.

Berdasarkan seluruh uraian di atas, maka hal yang perlu diketahui adalah penulis menyajikan pokok mengenai pendasaran kristologis atas pengakuan Yesus Kristus Peagabega ini dengan menggunakan pendekatan Kristus iman.[xxi] Pendekatan yang dimaksud berpijak pada peristiwa inkarnasi Kristus dan karya-karya-Nya sesudah Ia mengalami kebangkitan. Dalam arti ini, misteri inkarnasi Kristus dan karya-Nya sesudah bangkit kini sudah tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu sehingga Ia dapat hadir dalam pelbagai kebudayaan.[xxii] Berkaitan dengan hal ini, Kristus yang bangkit dengan tubuh-Nya yang mulia (lih. 2Tes 2:14; Rom 6:4, 8:11) kini masih terus hidup di tengah-tengah segala suku bangsa melalui kuasa Roh Kudus-Nya.[xxiii] Demikian juga dengan peristiwa inkarnasi Kristus melampaui batas ruang dan waktu sehingga melalui nilai-nilai positif yang ada dalam setiap kultur terutama melalui tokoh-tokoh ideal, Ia pun dapat menampakan wajah-Nya. Oleh karena itu, penulis percaya bahwa Kristus melalui kuasa Roh Kudus-Nya masih terus berkarya di dunia ini, kini dan di sini (hic et nunc) sesuai dengan konteks khas setiap suku bangsa termasuk suku bangsa Migani melalui kehadiran-Nya dalam diri tokoh Peagabega.[xxiv]

Penulis juga amat menyadari bahwa Gereja mengingatkan untuk tidak memisahkan antara Yesus dari Nazaret dengan Kristus iman sebab merupakan satu diri pribadi yang tunggal dan tak terbagikan (bdk. Mat 16:16);[xxv] namun demikian, sebagai suatu tawaran dari penulis supaya masyarakat setempat lebih mudah mengenal dan menerima Yesus Kristus secara kontekstual, maka dengan tahu dan mau penulis menyajikannya demikian tanpa bermaksud mereduksi atau pun mengabaikan ajaran Gereja. Oleh karena itu, penulis sarankan untuk membaca kajian ini dari perspektif Kristus iman; dengan harapan dapat membantu umat setempat semakin mengimani Yesus Kristus sesuai pola kulturnya sendiri; sehingga dengan demikian pewartaannya sungguh-sungguh mendarat di hati umat.

CATATAN AKHIR:



[i] Kristofani (Yun. ‘pernyataan diri Kristus’) yang dimaksud dalam konteks ini adalah peristiwa-peristiwa penampakan Yesus Kristus sesudah mengalami kebangkitan-Nya. Selengkapnya lih. Gerald O’Collins, dkk., Kamus Teologi, hlm. 170. Dalam arti ini, penulis akan memaknai kehadiran Yesus Kristus sesudah kebangkitan-Nya dalam konteks orang Migani melalui tokoh ideal Peagabega.
[ii] Bdk. R.S. Sugirtharajah (peny.), Wajah Yesus di Asia, terj. oleh Ioanes Rakhmat, hlm. 340.
[iii] Bdk. Ensiklik Yohanes Paulus II tentang Amanat Misioner Gereja (Redemptoris Missio), hlm. 34-37.
[iv] Bdk. Ibid., hlm. 29, 34-37.
[v] Bdk. Anscar J. Chupungco, Penyesuaian Liturgi dalam Budaya (terj.), hlm. 76; Lih. juga, Ibid., hlm. 35-36.
[vi] Bdk. Dr. Tom Jacobs SJ, Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru, hlm. 13.
[vii] JB. Banawiratma, SJ, (Ed.), Kristologi dan Allah Tritunggal, hlm. 42.
[viii] Bdk. Dr. Tom Jacobs SJ, Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru, hlm. 62-63.
[ix] Bdk. Bernardus Boli Ujan, dkk (ed.), Liturgi Autentik dan Relevan, hlm. 37-38.
[x] Bdk. Peter C. Phan, In Our Own Tongues, hlm. Xii.
[xi] Bdk. Anscar J. Chupungco, Penyesuaian Liturgi dalam Budaya (terj.), hlm. 76-77; Lih. juga,  R.S. Sugirtharajah (peny.), Wajah Yesus di Asia, terj. oleh Ioanes Rakhmat, hlm. 340.
[xii] Bagian ini mengikuti inspirasi dari Agus A. Alua, Gambaran Makhluk Ideal Dalam Mitos-Mitos Irian Sebelum dan Setelah Bertemu Kristus, hlm. 106-107.
[xiii] Bdk. Bernardus Boli Ujan, dkk (ed.), Liturgi Autentik dan Relevan, hlm. 36.
[xiv] Bdk. ibid., hlm. 37-38.
[xv] Bdk. Tom Jacobs, SJ, IMANUEL: Perubahan dalam Perumusan Iman akan Yesus Kristus, hlm. 30-31.
[xvi] St. Darmawijaya, Pr, Pengantar Ke Dalam Misteri Yesus Kristus, hlm. 31.
[xvii] Bdk. Tom Jacobs, SJ, IMANUEL: Perubahan dalam Perumusan Iman akan Yesus Kristus, hlm. 30.
[xviii] Selengkapanya baca Dr. Tom Jacobs SJ, Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru, hlm. 18-21; Bdk. St. Eko Riyadi, Pr, Yesus Kristus Tuhan Kita, Mengenal Yesus Kristus dalam Warta Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius, 2011, hlm. 14-15, 103; Lih. juga, Dr. C. Groenen, ofm, Sejarah Dogma Kristologi,.... hlm. 12-13.
[xix] Bdk. Kongregasi untuk Ajaran Iman, “Deklarasi ‘Dominus Iesus’ (Pernyataan tentang ‘Yesus Tuhan’)”, dalam Seri Dokumen Gerejawi No. 60, hlm. 33-36.
[xx] Bdk. Anscar J. Chupungco, Penyesuaian Liturgi dalam Budaya, hlm. 76.
[xxi] Umat kristiani zaman sekarang dituntut untuk berani menerima tantangan nilai dan makna Yesus Kristus sebagaimana dimaklumkan Gereja perdana dengan berani melangkah dari pengalaman akan Yesus sejarah ke dalam pengakuan Kristus iman. Selengkapnya baca St. Darmawijaya Pr, Pengantar Ke Dalam Misteri Yesus Kristus, hlm. 55-56.
[xxii] Bdk. Bernardus Boli Ujan, dkk (ed.), Liturgi Autentik dan Relevan, hlm. 38.
[xxiii] Bdk. St. Eko Riyadi, Pr, Yesus Kristus Tuhan Kita, Mengenal Yesus Kristus dalam Warta Perjanjian Baru, hlm. 60-61; Lih. juga, Bernardus Boli Ujan, dkk (ed.), Liturgi Autentik dan Relevan, hlm. 37-38.
[xxiv] Bdk. Anscar J. Chupungco, Penyesuaian Liturgi dalam Budaya, hlm. 76-77.
[xxv] Ensiklik YOHANES PAULUS II tentang Amanat Misioner Gereja (Redemptoris Missio), hlm. 13; Lih. juga, Kongregasi untuk Ajaran Iman, “Deklarasi ‘Dominus Iesus’ (Pernyataan tentang ‘Yesus Tuhan’)”, dalam Seri Dokumen Gerejawi No. 60, hlm. 29.


The Best

PENGERTIAN FILSAFAT